Sebuah Nama untuk Keberadaan


Meniru kewajiban Tuhan mengenalkanmu nama-nama benda sebelum menurunkan ruhmu ke dunia, kami memiliki tanggung jawab baru untuk mengenalkan namamu sebelum ruhmu menjelajahi dunia. Walaupun tidaklah kami mengetahui tentang ruh kecuali sedikit (QS.Al-Isra’:85). Bagi kami namamu bukan hanya sebuah doa seperti kata orang-orang bijak, namun kami ingin tuliskan sejarah dalam namamu walau hanya di angan-angan sebagai pertanda untuk terus diingat. Kami juga tidak ingin membatasi takdirmu dengan doa yang kami sematkan pada namamu, Nduk. Karena kami percaya, setiap hela nafas kami ada yang memiliki, maka kami pun percaya Tuhan telah menuliskan garis hidupmu jauh sebelum memerintahkanmu turun ke bumi serta menjadikanmu tanggung jawab kami. Dan bagi kami, kelahiranmu adalah pertanda akan datangnya sebuah masa baru.

Sebuah nama untuk keberadaan, kami sepakat menamaimu Rani Nur Amarta Paramitha. Nama ini baru kami sepakati tidak sebelum dirimu lahir, tapi berhari-hari setelah kelahiranmu barulah kami menemui kata sepakat. Sebelumnya kami sempat terkecoh oleh perkembangan dunia modern yang digaung serta dijunjung umat manusia. Dalam hal ini teknologi dunia medis yang selalu saja ingin mendahului takdir, memformulasi prediksi-prediksi dan menanamkan “fakta” pada otak manusia untuk diyakini. Ya, kami terkecoh untuk menyiapkan nama anak laki-laki untukmu. Ah bodohnya kami. Semenjak itu runtuhlah kepercayaan kami pada agugnya teknologi, terimakasih Nduk. Dan sejak saat itu juga kami teguh percaya bahwa dalam setiap kejadian, Tuhan selalu menitipkan pertanda agar kami terus mencari makna. Mencari, adalah sebuah kata kerja yang diciprati makna aktivitas yang tidak akan pernah berhenti.  Kamipun mengawalinya dengan mencari nama yang tidak hanya baik namun juga indah untukmu.
Rani. Jangan bayangkan kami memberikanmu nama yang sebelumnya kami ketikkan kata-kata di google dan melihat maknanya (karena ayahmu akan marah kalau aku melakukannya), kami tidak lakukan itu Nduk. Ayahmu menceritakan pengetahuannya tentang sebutan Rani padaku dengan detail dan akupun tekun mempelajari akarnya kemudian. Kami sepakat bahwa Rani bukan Raniiy yang berasal dari bahasa Arab. Rani dalam konteks ini adalah sebuah sebutan untuk pemimpin kerajaan di tanah Jawa, tidak melekat pada gender melainkan melekat pada sifat dasar manusia yang berjiwa pemimpin, bisa laki-laki ataupun perempuan. Maka dari itu sebutan Rani dapat disematkan untuk siapa saja yang memimpin kerajaan, entah Kertanegara, Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, Gajahmada, dan  Sima sekalipun. Kami tuliskan sejarah kelahiranmu bahwa saat itu dan semoga hingga nanti hati dan pikiran kami, tidak memandangmu sebagai laki-laki ataupun perempuan, kami memandangmu bagian dari pejuang Khairunnas anfa’uhum linnas.
Nur. Kami memilih memakai kata Nur, karena secara fisik dirimu lahir pukul 10.34 pagi. Cahaya sedang terang-terangnya menemani para manusia mencari RidhoNya. Dan secara spiritual kami merasa sedang dicahayai bahwa kelahiranmu adalah petunjuk jalan yang lurus. Rasa syukur terus menggema dalam hati kami. Kami merasa sisi gelap dari hati kami hilang perlahan. Tak kuasa lagi kami menahan air mata mohon ampunan atas segala keburukan kami karena sungguh kami bersaksi atas dimulainya kehidupan baru antara hidup dan mati. Kami berdua saling menggenggam tangan sambil terus berjuang agar dirimu dapat selamat memulai kehidupan. Kemudian kami belajar bahwa Nur yang artinya cahaya hadir secara berpasangan dengan Zhulumat yang artinya aneka gelap (QS.Al-Hadid:12). Nur adalah kata yang berbentuk tunggal, sedangkan Zhulumat adalah kata berbentuk jamak. Dengan itu hadirmu telah menginsyafkan kami bahwa, sumber kegelapan di dunia ini begitu banyak pun juga sumber kegelapan dalam hati manusia. Sedangkan sumber cahaya selalu menuju pada Yang Tunggal. Ya setelah lahirnya dirimu kami jauh lebih menginsyafi itu Nduk.
Amarta. Saat memikirkan nama tengahmu, ayahmu teringat pada sebuah cerita menjelang akhir masa kerajaan Majapahit yaitu cerita tentang Bhima dan Dewa Ruci. Ya, mencari nama baik untukmu ternyata membutuhkan energi yang cukup besar Nduk. Kami dipaksa membuka kembali literasi sejarah kami, dan mencocokkan suasana hati dan pikiran kami dengan peristiwa-peristiwa yang membekas pada sejarah masa lalu para leluhur. Dalam cerita tersebut, dikisahkan perjalanan fisik dan spiritual Bhima mencari Tirtha Amarta (air penghidupan). Kami menarik inti dari cerita yang begitu panjang bahwa,  Tirtha Amarta adalah sumber dari ajaran keseimbangan hidup untuk mencapai kesempurnaan manusia. Pada konteks ini, penghidupan lebih condong pada karakter air. Seperti yang kita tau bahwa air adalah unsur terpenting dalam proses kehidupan alam semesta dan menjadi awal dari seluruh proses kehidupan. Wa ja’alna minal ma’I kulla syai’in hayyin (QS.Al-Anbiya:30) “Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup”. Termasuk awal bentuk dari manusia, yaitu air mani. Itulah mengapa air dekat dengan predikat penghidupan, karena sifatnya menghidupi. Sebagai bentuk tuntunan dalam agamamu dinamakan syari’at pun sejatinya bermakna sumber air, yang mana syari’at lah yang menghidupimu pada jalan yang lurus. Sama halnya dengan kelahiranmu sebagai anak pertama kami, sebagai yang pertama sebelum kehidupan baru lainnya lahir. Kelahiranmu adalah sebuah air penghidupan bagi kami orang tuamu dan juga kelak bagi adik-adikmu.
Paramitha. Menyambung dari makna Amarta, adalah kesempurnaan yang menjadi tujuan setiap organisme hidup. Tujuan kami menjalani syari’at, adalah sampai pada kesempurnaan taqwa. Dirimu lahir dalam suasana hati kami yang benar-benar sedang berharap bahwa pada waktunya nanti kami akan sampai pada kesempurnaan taqwa bersamamu, meskipun kami sadar tidak akan sempurna-sempurna betul. Setidaknya kami tidak akan berhenti berusaha.
Nduk, dirimu adalah catatan sejarah kami yang baru. Terbanglah jika memang di dalam dirimu memiliki sayap. Berenanglah jika memang di dalam dirimu disertakan sirip. Kami orang tuamu hanyalah bertugas untuk memperkuat sayapmu jikalau memang sayap yang kau punya, dan memperlihai siripmu jika memang sirip yang menyertai tubuhmu. Kami orang tuamu hanyalah bertugas menuturimu tentang sifat-sifat angin dan air dan apa saja di dalamnya, agar dirimu dapat memahami kemana akan terbang dan berenang. Selebihnya jangan percaya pada mulut kami, percayalah pada suara yang menjerit jauh di dalam dirimu.

Kami yang sungguh-sungguh telah berjanji akan mencintaimu dengan utuh.

Comments

Popular Posts