Soal Ngopi dan Bertuhan
Barangkali akhir-akhir ini telinga, mata, bahkan hati kita merasakan 'sumuk'. Sumuk mendengar ucapan-ucapan yang dirasa keluar dari mulut yang 'mlengos' dari fitrahnya. Melihat tulisan-tulisan yang terindikasi menyulut kemarahan (alias suka bikin arena pertengkaran yang tidak gentle sama sekali). Dan merasakan bagaimana bila apa yang kita yakini benar, diinjak-injak, bahkan bisa menimbulkan peng-kafiran masal. Barangkali memang iya.
Teringat beberapa waktu yang lalu, saat moment idul fitri, suhu bumi bisa jadi turun drastis, dan mendadak intensitas angin sejuk meningkat. Hanya saja, sepertinya energi panas bumi lebih cepat bereaksi dengan energi manusia yang sedang 'main' di zona berbahaya, ketimbang energi manusia yang berkhusyu' ria mencapai kehanifan dan kemerdekaan dariNya. Belum sempat hati ini tumakninah menikmati kedamaian, ada saja yang sudah bikin keisengan, lebih parah lagi dengan mengatasnamakan keisengan Tuhan.
Atas nama keisengan Tuhan, padahal mereka sedang ikut aturan dalam zona kekuasaan Tuhan. Mungkin Tuhan saat itu sedang 'ngempet ngguyu'. Melihat mainannya ini agak sedikit error, lontang-lantung nunggu hidayah serta taufiq. Mungkin baterainya habis, atau teknisinya salah menyambung kabel.
Sambil ngopi, aku juga ikut 'ngguya-ngguyu'. Merasa ndak pantes juga sebenarnya, tapi ngguyuku sama ngguyunya Tuhan kan jelas jauh bedanya. Aku ini yang ndak tahu apa-apa disandingkan dengan Yang Tahu Apa-apa. Ndak pantes.
Beberapa buku memang berhasil terbaca, mungkin separuhnya aku baca sambil 'nglindur', dan sedikit ditambah bumbu tanya-tanya yang agak ngawur. Alhamdulillah sedikit mambawaku pada arus orang-orang penikmat kopi. Entah malam atau pagi, di rumah atau di warung kopi. Yang penting ngopinya para penikmat kopi.
Arus ini menempatkan kenikmatan ngopi setara dengan kenikmatan bertuhan. Bukan berarti Tuhan=kopi. Tapi setidaknya sifat Tuhan sedikit ada dalam kopi. Mengapa bertuhan? Bukan beragama? Barangkali aku sempat baca-baca sedikit, agama berasal dari suku kata a- yang artinya tidak, dan -gama yang artinya kekacauan. Berarti agama seharusnya tidak akan menimbulkan kekacauan. Dan kenyataan saat ini, justru sebaliknya. Kekacauan-kekacauan yang bikin 'sumuk' justru muncul dari kalangan yang mengaku 'beragama'. Sementara, hal tersebut cukup untuk jadi alasan tidak menggunakan kata beragama.
Mungkin ini yang sering bikin aku iri dengan para penikmat kopi. Jarang sekali kudengar kaum penikmat kopi 'geger' dengan sesama penikmat kopi bahkan penikmat teh, jus, dan lainnya. Yang biasa ngopi di unyil, joker, kedai kopi, atau angkringan sekali pun, perkara yang mana yang paling nikmat. Ketika semua penikmat minuman ini berkumpul, bukanlah saling mendebat mana yang paling nikmat. Tetapi, hanya sekedar bertukar rasa, apa enaknya kopi, apa enaknya teh, apa enaknya jus. Selebihnya, mereka punya slambu kehormatan. Mereka menyadari bahwa setiap orang punya seleranya masing-masing. Dan tidak bisa dipaksakan.
Jangankan antar penikmat minuman yang berbeda. Sesama penikmat kopi pun punya slambu kehormatan masing-masing. Begitu banyak jenis kopi, begitu banyak pula 'ritual' ngopi. Apakah arabika lebih mantab, atau robusta yang lebih nikmat, bagi mereka bukanlah sesuatu yang penting diperdebatkan. Dan perbedaan bagi mereka justru membuat 'ritual' ngopi lebih bermakna. Bisa jadi membantu mencapai kenikmatan puncak ngopi (bagi yang suka ngopi beramai-ramai).
Bagaimana dengan bertuhan? Apakah kita masih bisa berharap mencapai kenikmatan bertuhan seperti layaknya penikmat kopi? Bisa saja iya, dan kemungkinan besar tidak.
Di sini tingkat 'nglindur'ku sedikit berkurang, menyadari bahwa menikmati kopi, tidak akan maksimal jika dinikmati layaknya es degan (pakai banyak sedotan, dan digilir). Meskipun ada yang lebih suka ritual seperti itu, tetapi aku lebih suka ritual ngopi yang kunikmati secangkir untukku sendiri. Sama halnya dengan bertuhan. Bertuhan dan menikmati kopi sama-sama hal private dan sangat bergantung pada selera dan kenyamanan. Apa yang dicapai dalam bertuhan memang selayaknya sama dengan yang dicapai saat ngopi. Yaitu sama-sama mendambakan kenikmatan. Dan kedamaian.
Setidaknya yang saat ini merasa beragama segera sama-sama berfikir. Apakah dalam beragama diajarkan saling membenci, mencurigai, dan menyakiti? Jangan-jangan kita ini hanya sebagian kecil manusia yang 'kintir' dan tersesat. Dan tak tahu kemana arah jalan untuk pulang.
Selamat ngopi :)

Comments