Apologi
Sudah lama tidak membuka dan menuliskan kata-kata dalam blog ini. Sekarang mau bersih-bersih dan dekorasi, kalau ibarat sebuah rumah. Sudah banyak sarang laba-laba dan debu yang menumpuk di sudut-sudut halaman, ruangan, dan langit-langit. Akhir-akhir ini jarang sekali menyempatkan menulis dan sharing di blog ini, aku merasa sangat berdosa.
Berkali-kali melihat tulisan kawan-kawan jurnalis yang sangat produktif sekali menulis. Aku jadi iri pada mereka yang tiap hari bisa menyempatkan menulis apa yang mereka lihat dan rasakan, terlebih menuangkan apa yang mereka pikirkan di sebuah blog untuk dibagi pada kawan-kawannya. Beberapa kawan bahkan membuat sebuah web yang berisikan kumpulan tulisan tentang kehidupan, yang rata-rata anggotanya mahasiswa tingkat akhir yang mengasingkan diri ke daerah yang jauh dari perkotaan untuk saling memotivasi menyelesaikan skripsi (masih sempat berbagi dalam tulisan, SALUT). Ada juga yang setiap hari menetaskan pemikiran-pemikiran perjuangan dan perlawanan, sungguh iri rasanya. Sedangkan aku akhir-akhir ini sulit dapat menyempatkan waktu untuk berbagi lewat sebuah tulisan. Ketika kawan-kawan jurnalis dan penulis sering kali mengutip perkataan Minke dalam novel Bumi Manusia-nya "menulis adalah kerja untuk keabadian". Ya, satu sisi aku mengamini itu tapi di sisi lain juga aku merasa tersindir dan tersinggung oleh kalimat itu. Karena dalam sepotong kalimat itu mengandung banyak sekali tafsiran, maka aku memilih untuk berhati-hati memaknainya.
Banyak "pertemuan" dan "perpisahan" yang terjadi. Mungkin nanti satu persatu akan aku tuliskan di sini. Meskipun mungkin blog ini tidak akan abadi, bisa saja beberapa tahun lagi sudah tidak lagi digunakan dan tidak lagi bisa dibuka, tetapi setidaknya apa yang kutuliskan dan yang dibaca berasal dari inspirator abadi. Alam, manusia, dan Penciptanya.
Berkali-kali melihat tulisan kawan-kawan jurnalis yang sangat produktif sekali menulis. Aku jadi iri pada mereka yang tiap hari bisa menyempatkan menulis apa yang mereka lihat dan rasakan, terlebih menuangkan apa yang mereka pikirkan di sebuah blog untuk dibagi pada kawan-kawannya. Beberapa kawan bahkan membuat sebuah web yang berisikan kumpulan tulisan tentang kehidupan, yang rata-rata anggotanya mahasiswa tingkat akhir yang mengasingkan diri ke daerah yang jauh dari perkotaan untuk saling memotivasi menyelesaikan skripsi (masih sempat berbagi dalam tulisan, SALUT). Ada juga yang setiap hari menetaskan pemikiran-pemikiran perjuangan dan perlawanan, sungguh iri rasanya. Sedangkan aku akhir-akhir ini sulit dapat menyempatkan waktu untuk berbagi lewat sebuah tulisan. Ketika kawan-kawan jurnalis dan penulis sering kali mengutip perkataan Minke dalam novel Bumi Manusia-nya "menulis adalah kerja untuk keabadian". Ya, satu sisi aku mengamini itu tapi di sisi lain juga aku merasa tersindir dan tersinggung oleh kalimat itu. Karena dalam sepotong kalimat itu mengandung banyak sekali tafsiran, maka aku memilih untuk berhati-hati memaknainya.
Banyak "pertemuan" dan "perpisahan" yang terjadi. Mungkin nanti satu persatu akan aku tuliskan di sini. Meskipun mungkin blog ini tidak akan abadi, bisa saja beberapa tahun lagi sudah tidak lagi digunakan dan tidak lagi bisa dibuka, tetapi setidaknya apa yang kutuliskan dan yang dibaca berasal dari inspirator abadi. Alam, manusia, dan Penciptanya.
Comments