Nyanyian Menuju Kematian (4)


            Kapal selesai menjalankan tugasnya. Ia beranjak menjalankan tugas lainnya, tiga sampai lima jam lagi. Kapal berharap lekas mendapat tugas. Ia rindu perairan Kalimantan. Perairan jawa membuatnya cepat berkarat.
            Ole bersama bapak dan pakdhenya berjalan menjauhi kapal. Memori perjalanan akan terus mengendap. Sampai suatu saat Ole ingin mengingatnya kembali.
            Sesekali Ole menoleh ke belakang, menujukan pandangan ke kapal. Seraya mengernyitkan dahi karena terik matahari yang terpantul dari segala arah yang memantulkan cahaya menukik. “Selamat jalan kapal. Sampaikan salamku untuk ibu,” ucapnya dalam gumam.
            Langkahnya ia teruskan, sambil menunduk. Pelabuhan begitu rusuh dilihatnya. Aroma karat kapal, aroma keringat manusia, aroma kebisingan. Tetapi bapak dan pakdhenya terlihat tak peduli, mempercepat langkah. Hingga sampai di pintu keluar pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
            “Iki Le, tanah Jowo. Tanah asalmu,” tegas bapak Ole. “Iki Suroboyo, akeh wong nggolek banda urip.” Lanjut bapak Ole. Ketiganya larut dalam diam. Diam yang tanpa gairah. Panasnya Surabaya masih memasuki tahap adaptasi pada tubuh Ole. Sedangkan bapak dan pakdhenya sudah terlihat akrab, tapi acuh dengan suasana di sini.
            Mereka berjalan sampai menemui keramaian yang semakin tak mendamaikan agar bertemu dengan bus. “Pak, Ole lemas. Kepala Ole pusing, perut Ole mual.” Ujar Ole pada bapaknya.
            “Tak ada bahasa lain yang paling mudah dipahami, selain bahasa alam Le. Tubuhmu mengingatkanmu untuk berhati-hati di sini. Gejala alam itu gejala paling jujur, termasuk tubuhmu itu Le,” tambah Pakdhe Boneng sambil menggendong Ole di punggungnya.
            Mereka melanjutkan langkah, sampai bus berhenti dan menarik kencang tubuh mereka. Bus pun tak suka dengan teriknya panas Surabaya, membuatnya cepat ringkih.
            Dari jendela Ole ternganga melihat padatnya jalan, dan padatnya rumah-rumah. Orang-orang yang berlalu tanpa bisik atau tegur yang ramah. Dunia berubah di mata Ole. Kini yang ia rasakan seperti berada di dunia lain, bahkan dunia baru. “Apa di sini kita bisa memancing, Pak?” cetus Ole tiba-tiba.
            “Hahahahaha. Bisa Le, justru kamu akan dapat yang lebih besar dari ikan di Kapuas. Sepatu, gombal, bahkan di sini kamu bisa mincing masalah,” jawab bapak Ole dengan tawa terbahak-bahak. Pakdhe Boneng juga ikut tertawa.
            Ole terlihat sebal, tapi ia tidak bebal. Ia berpikir, dengan tetap mengamati hidup di luar jendela bus yang ia tumpangi itu. Tak lama bus melewati jembatan. Sungai memang terlihat tidak seperti sungai. Jauh dari sungai yang memberinya makan di tanah seberang. Tak terlihat arusnya.
            Sepanjang jalan Ole terdiam, tapi otaknya tak diam rupanya. Hingga sebuah pertanyaan terlontar lagi, “Pak, apa yang dipikirkan orang-orang yang tinggal di sini?”
            “Sssttt menengo sek Le, jangan kamu pikir terus. Coba kamu rasakan dulu,” jawab bapak yang mungkin tidak membuat Ole puas. Bapaknya melanjutkan perbincangannya dengan Pakdhe Boneng. Ole kembali berbincang dengan pikirannya, mungkin kali ini hatinya coba ia ajak.
###
            Ole hadir dalam rahim ibunya di sini, Jawa. Tak sampai separuh usia kandungan, ibu dan bapaknya memutuskan untuk meninggalkan Jawa. Mungkin saat itu mereka telah kalah atas seleksi alam. Dan pulau seberang menyambut janin Ole yang terus berkembang dan bergerak aktif dalam kandungan.
            Bukan seleksi alam, begitu kepercayaan bapak Ole. Tidak ada seleksi alam di negeri ini. Semua hanya bertahan, tak ada yang bertarung dan bertaruh. Bertahan, melepas satu, menahan dua, tiga, dan seterusnya. Apa itu yang disebut seleksi alam?
            Bertahan, ketika tidak tahan ia harus memilih. Menetap atau pergi. Dan saat itu Bapak Ole telah memilih pergi. Yang menjadi pertimbangan pertama adalah, anak dalam kandungan istrinya. Mereka tidak ingin anak mereka terlahir, bernafas, tapi tak hidup.
###
            “Pak, mereka ngapain?” tunjuk Ole pada orang-orang yang berjejal membawa kertas berisikan tulisan-tulisan, berteriak dengan pengeras suara, bernyanyi dengan suara parau dengan nada marah. Terlihat dari jauh pula, orang-orang sejenis mereka yang turun dari bus, dan bergabung, menjelma.
            “Mereka sedang berdoa Le,” jawab bapaknya singkat. Ole semakin bingung, baru hari itu ia melihat orang berdoa dengan cara seperti itu. Berdoa kepada siapa? Berdoa kok marah-marah? Batin Ole, karena jawaban bapaknya sama sekali tak memadamkan rasa penasarannya.
            “Mereka itu memang sedang berdoa Le. Cara mereka berdoa memang unik, doa mereka juga membuat banyak orang ikut mengamini. Semoga doa mereka lekas didengar Gusti, hehehe,” tawa bapak Ole yang kedengarannya nglantur.
            “Ngerti kowe Le, bapakmu iki pancen gendheng. Orang-orang itu bukan sedang berdoa, tapi sedang sholat,” tambah pakdhe Boneng.
            “Tambah ngawur to Le pakdhemu iki, hahaha,” cletuk bapak Ole.
            “Sholat pakdhe? Ojo ngawur to, Ole jadi tambah bingung ini,” nada Ole terdengar sebal karena celetukan bapak dan pakdhenya.
            “Itu mereka sedang demo Le, hari ini hari buruh sepertinya. Mereka mau nuntut hak-hak yang mungkin mereka rasa belum terpenuhi.” Jawab bapak Ole lebih serius.
            “Buruh? Apa itu pak?” tanya Ole lagi. “Buruh itu sebutan buat orang-orang yang bekerja di tempat orang Le. Mereka ndak bisa menentukan sendiri berapa besar bayaran mereka,” jelas bapaknya singkat.
            Ole mengangguk angguk, dan memilih tidak melanjutkan lagi pembicaraan soal itu. Bus yang mereka tumpangi melaju lambat. Berdempet sesak dengan kendaraan lainnya. Jalanan mati, bergerak sesekali untuk beberapa inci.
            Surabaya saat itu menyambut Ole dan menampilkan tarian pembuka, tarian orang-orang mati. Yang hidup hanya kendaraan, nafsu, dan asap, bergeliat. Asa sekejap tak ada yang terlihat. Doa-doa hanya formalitas bentuk ketaatan pada ruang dan masa.
            Sambutan Surabaya juga tak begitu akrab dirasakan. Ole lemas, badannya panas. Mulutnya pucat kering, dan baru kali ini selama perjalanan Ole banyak diam. Hingga bus berhenti dan ketiganya turun dari bus. Ole digendong bapaknya.
            “Kita mau kemana Pak?” tanya Ole pelan. “Rumah Pakdhe Le” jawab bapak Ole singkat. Mereka bertiga meneruskan perjalanan, berjalan menyusuri trotoar hingga sampai pada sebuah gang. Tidak lama kemudian sampai di depan sabuah bangunan yang terselimuti dengan pepohonan, tanaman rambat, tanpa pagar.
            Dari depan bangunan ini tampak gelap karena tertutup kanopi pohon yang lebat. Begitu menginjakkan kaki pada tanah pekarangannya, seketika panas bekas perjalanan dan sapaan Surabaya hilang. Bau tanah yang kuat, aroma bunga yang sedang tumbuh mekar, dan suara gemricik air kolam ikan menyambut kedatangan mereka.
            Tak jauh dari pintu masuk ada sebuah gubuk bambu beratapkan rami, tepat di sebalah kanan kolam. Ole minta turun dari gendongan bapaknya. Ia berlari ke gubuk itu, matanya menjelajah seluruh bagian gubuk. Ada sebuah rak kayu dengan buku berjejer rapi. Ole ambil satu buku dari rak kayu itu. Kisah Tentang Kekasih Kristus, Iman yang Mati. Duduk, kemudian ia baca beberapa halaman.
            “Le, ayo mrene masuk rumah sek,” seru Pakdhe Boneng pada Ole. Ole membawa buku yang ia baca dan berlari menuju ke dalam rumah.
            Bangunan bergaya tua bercat putih, beberapa kursi dan meja rotan mengisi latar depannya. Disitu Ole dan bapaknya duduk sambil menunggu Pakdhe Boneng yang mungkin sedang menyiapkan minuman untuk mereka.
            Jauh dari udara Surabaya pada umumnya, segar dan menenangkan. Bunyi-bunyian burung peliharaan bersahutan, kupu-kupu hinggap di atas mawar yang mulai mekar dewasa. Saking nyamannya, Ole dan bapaknya hanya bisa diam dan menikmati ketenangan itu.
            Tak seberapa lama Pakdhe Boneng kembali dengan membawa nampan yang berisikan ceret yang berebun serta teko yang berasap. “Kopi? Teh?” tanyanya singkat. “Teh…” sahut Ole. Tanpa ditanya di depan bapak Ole diletakkan sebuah cangkir, dan dituang kopi ke dalamnya.
            “Pakdhe, ini buku siapa? “ tanya Ole di tengah asiknya segarnya teh dan kopi yang belum habis diteguk. “Iya, punyaku itu Le,”jawab Pakdhe singkat dengan senyuman. “Kenapa?” lanjutnya.
            “Pakdhe Kristen?” tanya Ole keheranan. Sepanjang perjalanan Ole bersama Pakdhe Boneng, Ia tak pernah mengira kalau Pakdhe Boneng adalah kaum kristiani.
            “Kenapa Le? Kok terlihat heran kamu? Ada masalah kalau Pakdhemu ini Kristen?” desak Pakdhe.
            “Tidak Pakdhe, semua orang terlihat sama. Padahal sebenarnya berbeda-beda ya?” Ole mempertanyakan apa yang selama ini ia saksikan.
            “Apa indah dunia ini kalau tiap orang sama Le?” tanya Pakdhe singkat. Ole terdiam sejenak dan bertanya lagi. “Lalu apa pentingnya sebuah agama Pakdhe? Aku islam, Pakdhe Kristen, ada lagi hindu, budha,” nadanya terdengar lebih penasaran lagi.
            “Coba bayangkan kamu berjalan di sebuah tempat yang gelap gulita, tanpa penerangan apa pun. Kamu bisa terus berjalan. Tapi apakah kamu bisa tau di depanmu ada apa? Jikalau kamu harus bertahan, bisa kah kamu bertahan lama dengan keadaan seperti itu?” jelas Pakdhe.
            “Enggak” jawab Ole singkat.
            “Nah, agama itu ibarat sebuah alat untuk menerangimu Le, entah itu api, senter, lampu, lilin, atau yang lain. Yang penting, tujuannya adalah apa yang ada di depanmu itu jelas. Sehingga kamu bisa mengambil segala macam kemungkinan untuk bertahan” lanjut Pakdhe.
            “Di buku ini disebutkan iman yang mati, bahwa manusia yang membuat kerusakan di bumi. Mengapa begitu Pakdhe? Pertanyaan Ole bertubi-tubi, rasa ingin taunya kembali. Bapak Ole kali ini hanya sebagai pendengar saja.
            “Sini Le, ayo ikut Pakdhe masuk,” Pakdhe Boneng berdiri dan mengajak Ole masuk ke rumahnya.
            Rumahnya tidak begitu besar, dari pintu masuk sudah terlihat pintu keluar belakang rumah, satu garis lurus. Di dalam rumah tak banyak barang-barang, hanya terlihat tertata rapi. Dindingnya putih bersih, tak ada sebingkai foto pun terpajang. Hanya beberapa lukisan yang entah Ole tak paham itu lukisan apa. Yang terlihat mencolok adalah beberapa rak buku yang penuh dengan buku-buku.
            Pakdhe Boneng mengajaknya masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu nampaknya adalah sebuah laboratorium. Ada mikroskop, ada tabung-tabung reaksi, ada juga tikus putih di dalam kotak kaca.
            “Kemari Le,” Pakdhe duduk di depan kotak yang berisikan tikus putih, Ole mengikutinya dan duduk di sebelahnya. “Kamu amati tikus itu Le, apa yang kamu dapat?”
            Ole diam mengamati apa yang dilakukan tikus dalam kotak itu beberapa saat. Yang ia dapati, tikus dalam kotak itu hanya berjalan-jalan, makan, dan tidur. Tidak ada aktivitas lainnya.
            “Kamu lihat Le, tikus itu pasti akan terus begitu walau dilepas pun, berkembang biak juga,” penjelasan Pakdhe menghentikan pengamatan Ole.
            “Itu bisa sebut sebagai hukum alam, hukum dasar Le. Bagaimanapun kondisinya akan tetap berjalan sebagaimana mestinya,” tambah Pakdhenya. Ole memperbaiki posisi duduknya agar nyaman mendengarkan Pakdhe Boneng bercerita.
            “Hewan hanya diikat oleh hukum alam tersebut, biasa kita sebut naluri. Lapar, ya makan, ngantuk ya tidur. Berbeda dengan manusia, ada hukum lain selain hukum alam yang mengikat manusia, yaitu hukum sosial,” papar Pakdhe Boneng pada Ole yang terlihat semakin antusias.
            “Ole masih belum paham..” ujar Ole. “Begini-begini Le, apa yang membedakanmu dengan tikus itu adalah, kamu punya pikiran dan hati. Tikus itu hanya punya otak, tapi bukan pikiran. Ketika tikus itu tinggal bersama tikus-tikus lainnya, mereka berperilaku sesuai dengan hukum alamnya, semua akan sama seperti itu. Berbeda dengan manusia,” Pakdhe berusaha menjelaskan pada Ole ssesederhana mungkin,
            “iya, paham.. terus terus Pakdhe?”
            “Manusia tidak hanya terikat dengan hukum alam Le, tapi juga punya hukum sosial. Dalam hal itu lah pikiran dan hati manusia berperan,” lanjut Pakdhe.
            “Dan? Bagaimana iman bisa mati?” tanya Ole yang merasa penasarannya belum terbayar.
            “Sabar Le, banyak pelajaran yang harus kamu dalami untuk memahaminya secara utuh. Pakdhe kali ini hanya bisa menjelaskan, bahwa setiap manusia punya visi yang harus di capai. Punya tugas yang harus tuntas. Dan pencapaian itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran,” papar Pakdhe dengan perlahan agar Ole memahami.
            Ole manggut-manggut dan berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Ia mengelilingi laboratorium Pakdhe Boneng dengan mata yang atusias diiringi dengan ketakjuban. Lalu ia keluar dan berjalan menuju pintu belakang. Terlihat banyak sekali kucing, dan anjing peliharaan Pakdhenya di belakang rumah. Tidak di dalam kandang, mereka dilepas bebas.
            “Apa mereka nggak kabur Pakdhe?” tanya Ole heran, sebanyak itu peliharaan Pakdhenya.
            “Kalau mereka kabur, berarti ada yang salah dengan Pakdhemu ini Le, mereka sungguh sangat perasa,” jelasnya singkat sambil merangkul bahu Ole dan mengajaknya ke teras depan.
            “Pakdhe, apa bapak akan lama tinggal di sini?” tanya Ole tiba-tiba.
            “Mungkin iya,” jawab Pakdhe singkat. “Pakdhe, aku nggak mau sekolah, aku mau belajar di sini aja sama Bapak sama Pakdhe,” dengan tanpa ragu Ole berkata pada Pakdhenya.
            “Hahahahaha. Bapakmu selalu berhasil menghasut orang,” Pakdhe menimpali dengan tawa yang tak henti-henti.
            “Ono opo iki?” tanya Bapak Ole penasaran. “Pak, aku nggak usah sekolah ya. Tapi Bapak sama Pakdhe mau ndak jadi guruku?” Ole berlari lalu duduk di pagkuan bapaknya.
            Bapak Ole mengangguk dan memeluk Ole. “Tunggu sampai nyanyian dari mulutmu menjadi nyanyian yang menghidupi sekitarmu Le,” bisik Bapak Ole. “Jangan sampai apa yang keluar dari mulutmu sama seperti orang-orang sekarang ini Le. Jangan sampai kamu berjalan di dunia ini layaknya zombie atau boneka kayu yang tak punya kendali atas dirinya sendiri,” tambahnya.
            Hari mulai gelap, Pakdhe Boneng mulai menghidupkan lampu-lampu. Mereka bertiga pun membereskan gelas dan cangkir mereka, dan masuk ke dalam rumah. “Disini kamu tak hanya bertemu dengan alam Le, tapi juga bertemu dengan banyak manusia, nikmatilah,” bisik Bapak Ole.


Tamat…

Comments

Popular Posts