Nanyian Menuju Kematian (3)



            “Ayo Le, kita berangkat. Masih panjang perjalanan kita nanti. Bapak lanjutkan di jalan ceritanya,” ajak laki-laki muda pada anaknya sambil berjalan menuju motornya.
            Ole berlari dengan semangat menuju motor, lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan. “Pak, kenapa kita harus ke Jawa? Ole mau Bapak ajak kemana?” pertnyaan ini sebenarnya sudah mengendap sejak kemarin di otak Ole.
            “Sudah, tanyamu akan tinggal tanya Le nanti. Nikmati saja. Gocekan!” jawaban ini jelas tidak memuaskan bagi Ole. Tapi Ole tertawa dan berteriak, “Budhaaaal!!”
            “Bukan Bapak ndak mau ngomong untuk apa kita ke Jawa. Kalau bapak ngomong, kamu nanti akan fokus sama tujuan kita. Padahal bakal banyak hal yang bisa kamu dapat Le. Bukan pada tujuan, tapi pada perjalanan kita inijelas laki-laki muda ini pada Ole dengan suara yang dikeraskan.
###
            Roda terus menggelinding mencari tempat pas untuk menancapkan diri pada tanah. Hembusan angin juga tak segan mampir dan parkir sejenenak. Setelah 36 jam perjalanan akhirnya laki-laki muda dan anaknya, sampai juga di pelabuhan.
            “Titip motorku Sam, sak wektu-wektu iso tak jupuk,” ujar laki-laki muda pada temannya, penjaga parkir. Setelah motor Ia titipkan, berjalanlah ia menuju kawannya itu dengan tersenyum sambil memberikan sebungkus rokok kepada temannya itu. “Suwun Sam,” ia berlalu bersama Ole menuju kapal.
            Pelabuhan tampak ramai, orang-orang lalu-lalang membawa barang bawaannya dan hampir semuanya berlari kecil menuju kapal masing-masing. Ya, begitulah keramaian pelabuhan pada saat itu.
            “Le, anggaplah kapal yang akan kita naiki nanti sebagai sebuah buku. Karena dari kapal ini, kamu akan menjumpai dan menyelami menyelami kenyataan.”
            Saking herannya Ole dengan kata-kata bapaknya, Ia lewatkan dengan kebisuan. Ole berjalan mengikuti bapaknya, tanpa satu kata yang terlontar. Karena di kepalanya berjejal kata-kata yang berlomba untuk ditembakkan menunggu picu ditekan, tapi tak kunjung ditekan, terlewatkan.
            Siang itu kapal terlihat penuh tapi tak sampai berdesakan. Orang berlalu lalang, membawa barang, menggendong bayi, membopong barang dagangan, dan menggendong beban hidup yang terlihat dari kerut-kerut wajah mereka.
            Ole masih terdiam lama, tetapi gerak gerik keingintahuannya tak pernah bisa disembunyikan. Ia terlihat mengamati keadaan di sekitarnya. “Ini Le yang namanya kapal, hahahaha,” ujar laki-laki muda pada Ole.
            “Pak,  Ole tau kalau ini kapal. Tapi kok Bapak menyamakan kapal ini dengan buku?”
            “Sssssttt, bapak tak rokok an sek Le. Jangan banyak tanya dulu, nikmati wae. Ini perjalananmu yang pertama naik kapal to?” laki-laki muda berjalan menuju pinggir kapal, ia nyalakan sebatang rokok dan menghisapnya sambil memandang laut lepas.
            Ole hanya mengikutinya, dan sama-sama memandang laut lepas. Ole menutup matanya dan menghirup udara laut. Bajunya tertiup angin dan terdengar bunyi-bunyian kapal yang mengisyaratkan kapal akan segera berangkat. Perlahan kapal menjauh dari dermaga. Ole dan laki-laki muda itu pun semakin jauh dari rumah dan perempuan yang akan mereka rindukan bersama.
            Tak lama sebatang rokok telah habis dan digantikan dengan batang selanjutnya. “Le, coba lihat laut lepas ini?” tanya laki-laki muda pada Ole.
            “Hemmm…Ole cuma lihat air laut dengan kapal-kapal di atasnya, langit dan pelabuhan itu Pak,”
            “Apa kamu bisa lihat di balik garis laut itu ada apa?” Tanya laki-laki muda pada Ole, sambil menunjuk ke air laut yang terlihat seperti garis.
            “Ndak bisa pak. Ole Cuma bisa lihat garis lurus itu. Kenapa to Pak?” jawab Ole
            “Layaknya hidup Le, kita ndak pernah tau apa yang bakal terjadi setelah ini. Manusia punya batas-batas tetapi bukan untuk membatasi, tetapi agar manusia waspada. Seperti kapal di ujung sana, tadi kamu tak bisa melihatnya bukan? Tapi lama-lama kamu akan melihatnya dari bagian yang paling atas,” ujar laki-laki muda itu sambil menunjuk ke arah perahu yang baru saja muncul dari garis laut.
            Ole terlihat sedikit bingung, namun tetap antusias mendengarkan bapaknya. “Bagaimana bisa laut dan perahu itu seperti hidup kita pak?” cetus Ole spontan.
            “Coba bayangkan Le, posisi ini dalam suasana peperangan. Kamu tidak akan pernah bisa melihat berapa banyak musuh di ujung sana sebelum kamu mendekat bukan? Saat mendekati perlahan kamu akan melihat satu persatu muncul kapal-kapal yang sebelumnya tak kamu lihat.”
            “Terus?” ujar Ole tak sabar
            “Dan ketika kamu melihat ternyata banyak sekali kapal-kapal musuh di ujung sana, sedangkan kamu sadar bekal dan senjatamu tak cukup. Maka kamu akan segera memutuskan, terus maju dengan resiko kehabisan bekal dan kekurangan senjata. Atau mundur sambil menyusun strategi baru.”
            Tak terasa batang rokok kedua telah habis dihisapnya, tetapi ceritanya tak ia hentikan. “Anggaplah itu seperti hidup Le. Hidup itu adalah sebuah ketidak pastian yang pasti. Dalam ketidak pastian itu muncul pilihan, yang harus kamu pilih berdasarkan pertimbangan atas di dalam dirimu,” Sejenak diam.
            “Lihat orang-orang ini Le,” sambil berbalik badan matanya menunjuk ke orang-orang disekitarnya.
            “Kenapa pak orang-orang ini?” timpal Ole penasaran.
            “Amati saja, apa yang ada di benakmu Le?” jawabnya singkat.
            Sejenak hening, Ole mengamati orang-orang sekitarnya. Berlalu lalang, duduk, tertidur, ada yang menggendong anaknya yang menangis, ada yang berpakaian layaknya preman, ada orang tua yang hanya bisa diam tak bisa bicara dan hanya bisa sedikit gerak, dan mereka. Ole dan bapaknya yang berdiri mengamati semuanya.
            Keheningan terjadi cukup lama, sampai laki-laki muda itu disapa oleh seorang laki-laki paruh baya. Terlihat sangat akrab, seperti kawan lama.
            Tak lama setelah mereka bercengkrama Ole dikenalkan oleh bapaknya kepada laki-laki itu.
            “Ini to jagoanmu itu? Siapa namamu le?” tanya laki-laki itu pada Ole.
            “Ole pak,” sambil mencium tangan laki-laki yang baru ia temui hari itu.
            “Aku Pakdhe Boneng, bapakmu manggil aku Pakdhe.” ujar laki-laki paruh baya itu. Meskipun seperti kawan dekat bapaknya, Ole baru pertama kali bertemu laki-laki itu.“Ini guru bapak Le, Pakdhe ini asli Jawa sama seperti bapak. Sebenarnya bapak ajak kamu ke Jawa juga karena bapak sudah janjian sama Pakdhe.”
Mereka bertiga berbincang sambil berjalan mencari tempat duduk dan memesan kopi. Ole membuka tasnya dan mengambil apel terahir yang dibawakan ibunya. "Pakdhe mau apel?"tanya Ole pada kawan bapaknya itu.
"Ndak usah Le, habiskan saja. Pakdhe sudah pesan kopi," jawabnya.Mendengar jawaban itu Ole langsung melahap apelnya yang terahir itu.
            “Bapakmu iki wong gendheng Le, hahahaha. Tapi gendheng-gendheng ngono bapakmu itu orang baik,” Pakdhe menuturi Ole sambil melontarkan beberapa gurauan tentang bapaknya.
            Tak begitu lama kopi yang mereka pesan datang, mereka tetap melanjutkan perbincangan. “Gendheng gimana Pakdhe?” tanya Ole penasaran.
            Bapak Ole dan kawannya tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk bahu Ole. Ole pun tanpa sadar turut tertawa, meski tak tahu sebenarnya apa yang mereka tertawakan.
###
            “Apa kamu masih mengamati orang-orang di kapal ini Le?” sambung bapak Ole setelah sekian lama ia berbincang dengan kawannya, dan setelah Ole terbangun dari tidurnya.
            Ole terdiam beberapa sesaat, ia melempar matanya ke segala penjuru kapal. Menyisir satu-persatu penjuru jangan sampai ada yang terlewatkan. “Pak, sebenarnya apa yang membuat orang-orang disini bergerak?”
            “Apa kamu masih ingat perbaincangan kita tadi siang Le? Tentang garis laut yang bapak tunjuk tadi?” tanya bapak Ole.
            “Ya Pak, Ole masih ingat. Tapi apakah ada hubungannya dengan pertanyaanku yang ini?” Ole tampak penasaran.
            Bapak Ole mengajaknya beranjak dari tempat duduk mereka. Meninggalkan sejenak Pakdhe yang masih tertidur di kursi, ia terlihat lelah. Mereka berdua berjalan menuju kapal bagian bawah. Di sebuah ruang kecil yang tak begitu luas dan sedikit pencahayaan, terlihat beberapa laki-laki, sepertinya awak kapal. Mereka memegang botol dan beberapa kali terlihat meneguk botol ditangannya.
            Matanya merah, dan badannya lemas tak terkontrol. Suara tawa mereka terdengar lepas dan perbincangan mereka terdengar tanpa arah. Ole menyaksikan orang-orang itu, melangkah mendekati ruangan itu. Tetapi tangan bapaknya menghalanginya. “Jangan terlalu dekat Le, mereka tidak dalam kesadaran normal,” cegah bapak Ole.
            “Apa yang mereka minum itu Pak? Apa itu yang membuat mereka ngelantur? Ole penasaran.
            “Iya Le, ayo jangan lama-lama di bawah sini. Mungkin Pakdhemu sudah bangun di atas,” tak lama mereka berlalu dan meninggalkan pemandangan ruang remang-remang itu.
            “Kamu bisa bedakan apa yang kamu lihat di bawah dengan apa yang kamu amati disekelilingmu tadi Le?” mereka berdua menuju pinggir kapal sambil menikmati angin malam dan sinar bulan yang terpantul di air laut.
            “Orang-orang disini sadar Pak, dan yang di bawah tadi mereka tidak sadar,” jawab Ole singkat.
            Pakdhe Boneng dari belakang menyusul perbincangan mereka, “Ngomongin opo iki Le?” sahut Pakdhe sambil menepuk punggung Ole dari belakang.
            “Eh Pakdhe sudah bangun to. Ini lho Pakdhe, tadi Ole barusan ketemu orang-orang yang mabuk di bawah,” matanya tetap tertuju pada pantulan bulan di air laut.
            Pakdhe ikut bergabung pada perbincangan mereka. Tetapi perbincangan di pada awalnya. Mereka bertiga seakan-akan terhipnotis dengan kolaborasi angin malam, suara ombak, dan indahnya pantulan bulan di air laut.  
            “Orang-orang di sini sama-sama manusianya Le. Apa yang membuatnya berbeda? Di atas sini orang-orang nampak sibuk dengan dunianya, di bawah sana mereka tak peduli dengan dunianya. Di atas sini mereka sadar, di bawah sana mereka tak sadar. Lalu apa bedanya Le?” Bapak Ole menyambung pembicaraan lagi setelah beberapa lama mereka hanyut dalam keheningan.
            “Menurut Ole mereka sama saja Pak. Di atas sini mereka sadar tapi tak peduli dengan yang lain. Di bawah tadi mereka ndak sadar juga sekaligus ndak peduli dengan lainnya. Menurut Ole sama saja Pak,” terang Ole.
            “Hahahaha kamu iki sama kayak bapakmu dulu Le. Pinter,” sambung Pakdhe.
            “Orang-orang di atas sini mungkin tidak sadar kalau mereka hidup Cuma dikendalikan oleh hasrat untuk mencari uang Le. Mereka akan terus fokus pada tujuan mereka. Yang penting sampai, yang penting semuanya selesai. Dapat uang, sudah selesai, bahagialah mereka,” lanjutnya.
            “Sedangkan mereka yang mabuk tadi Le, mungkin mereka sudah muak dengan dunia yang tak lagi bisa mereka kendalikan. Ketidak adilan yang mereka rasakan. Dan satu-satunya cara mereka agar bahagia adalah dengan cara mabuk,” sambung Bapak Ole menimpali.
            “Bukankah kita diciptakan dari tangan yang sama Pak? Mengapa baik dan buruk muncul dari tangan yang sama itu? Bukankah Tuhan Maha Baik Pak? Lalu kenapa Ia ciptakan uang untuk merusak manusia?” tanya Ole bertubi-tubi dengan tekanan di setiap kalimat ia lontarkan pada bapaknya dan Pakdhe.
            “Le, Tuhan ndak pernah menciptakan sesuatu yang buruk. Hanya saja manusia yang tidak menggunakan kesadaran dan pikiran yang diberikan Tuhan dengan baik,” jelas bapak Ole.
            “Le, apa jadinya kalau memang Tuhan ndak menciptakan uang sebagai ujian? Apa jadinya kalau ujian ndak ada rintangan? Apa yang menjadikan manusia istimewa jikalau begitu?” tambah Pakdhe kepada Ole yang menyimak dengan serius.
            “Ole paham. Manusia bebas memilih dengan menggunakan akal yang diberikan Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk ya Pak?” sela Ole.
            Karena hari telah malam, bapak Ole menghentikan pembicaraan. “Lalu, apakah kamu masih ingin sekolah Le? Apa kamu nggak bakal kangen sama Bapak dan Pakdhemu ini? Hahahah,” uja bapak Ole sambil menuntuk Ole ke dalam kapal untuk beristirahat.

            “Ole rasa tidak Pak,” jawab Ole singkat diikuti dengan tawa ketiga laki-laki itu. Kapal tak menghiraukan pembicaraan mereka malam ini. Yang kapal itu tau, tujuannya adalah daratan Jawa tempat ratusan orang ini menaruh harap. 

Comments

Popular Posts