Penyelesaian Absurd dari Fenomena Curanmor UB

Terpujilah wahai pencuri sepeda motor wilayah operasi Universitas Brawijaya!! Mengapa demikian? Mungkin para pencuri ini sedang merindukan sanjungan, pujian, bahkan pengakuan dari kita semua. Dan sekali-kali marilah kita ucapkan terima kasih atas jasa para pencuri sepeda motor wilayah operasi Universitas Brawijaya (UB). Karena atas jasanya, tingkat pengamanan wilayah parkir UB sedikit dinaikkan standarnya. Yang awalnya jam jaga satpam fakultas hanya sampai pukul sembilan malam, kini ditambah hingga pukul sepuluh malam. Selain itu juga, pengamanan pada gerbang keluar kembali seperti seharusnya, satpam memeriksa STNK setiap kendaraan yang keluar. Meskipun pemeriksaan ini tidak bertahan lama, hanya beberapa hari saja setelah adanya banyak laporan kehilangan sepeda motor di wilayah parkir UB. Setidaknya itu sedikit alasan mengapa kita sesekali perlu mengucap terima kasih pada pencuri motor, terlepas dari perbuatannya yang membuat banyak orang yang kehilangan motor merasa dirugikan. Dan paling tidak, pencuri motor telah memberikan sebuah pelajaran berharga kepada orang yang kehilangan motor, Jangan sayangi motormu secara berlebihan, karena itu hanya titipan. 
Fenomena pencurian motor ini mengingatkan kita pada banyak hal. Salah satunya adalah mengingatkan kita atas daya tampung dan daya dukung UB. Banyaknya jumlah kendaraan yang parkir di UB, hal ini berbanding lurus dengan jumlah mahasiswa yang menjadi penerima mahasiswa terbanyak dibandingkan universitas sekitarnya, yang akhirnya juga terus meningkatkan jumlah masyarakat UB raya. Jika dijumlah secara kasar, pada tahun 2012 lalu saja total mahasiswa baru adalah 15.392, tahun 2013 hampir 16.000 mahasiswa baru, dan tahun 2014 yang mencapai 12.000 mahasiswa baru. Dari tiga angkatan masuk saja telah mencapai 40.000 lebih mahasiswa. Belum lagi ditambah dengan mahasiswa-mahasiswa angkatan lama. Jika dibandingkan dengan daya dukungnya yaitu total luas lahan 58 hektar dan tidak akan bisa bertambah luas. Kita pun harus bisa membayangkan lahan yang digunakan untuk bangunan gedung, taman, lapangan, dan jalan dibandingkan dengan lahan untuk parkir. Gedung, taman, lapangan, dan jalan adalah sebuah ruang yang terisi dengan manusia, makhluk yang dinamis dan otonom. Setiap manusia pun hanya memakan space tidak sampai 1 meter persegi setiap orang, dan dalam ruang yang terisi manusia tersebut terjadi sebuah proses sirkulasi yang cepat. Jika dibandingkan dengan satuan luas yang digunakan untuk sebuah kendaraan bermotor yang rata-rata bertahan dalam waktu yang relatif lama, serta memakan banyak luasan wilayah, maka sirkulasi dalam lahan parkir dibandingkan dalam gedung, taman, lapangan, dan jalan akan lebih sedikit. Sehingga wajar, apabila permasalah kurangya lahan parkir masih terus diusung hingga saat ini. Premis kekurangan lahan parkir ini juga dapat didukung dengan banyaknya lahan parkir bayangan, yaitu bagian jalan yang digunakan parkir dikarenakan lahan parkir resmi telah overload. Apabila kita masuk dalam lingkungan kampus maka jangan heran apabila kampus ini lebih terlihat seperti showroom motor dan mobil. Kedua premis itu pun belum cukup untuk menyimpulkan permasalahan ini.. Hanya cukup untuk menyimpulkan bahwa, UB telah overcapacity. 
Kita diingatkan pada hal kedua yaitu, UB tidak lagi aman. Mengapa? Masih dapat dikaitkan dengan peringatan sebelumnya mengenai overcapacity dan dibandingkan dengan tenaga keamanan serta sistem keamanan di UB, yang ternyata masih saja terjad fenomena pencurian kendaraan bermotor. Artinya, kapasitas UB tidak sebanding dengan kapasitas tenaga keamanan yang disediakan. Apabila dihitung secara kasar dari 16 fakultas dengan rata-rata 6 orang satpam tiap fakultas, dijumlah dengan satpam yang menjaga gerbang masuk dan keluar rata-rata 4 satpam setiap gerbang, jadi totalnya adalah sekitar kurang lebih 112 satpam yang bertugas mengawasi kendaraan bermotor yang terparkir di UB. Dari kedua perhitungan kasar tersebut, mana lah yang paling memberikan kontribusi dalam fenomena pencurian motor ini? Terlalu sulit untuk menyimpulkannya, karena ada variable-variabel lainnya yang terlibat di dalamnya. Variable pertama adalah, lalainya pemilik kendaraan dalam menjaga kendaraannya, misal lupa mengunci ganda, kunci tertinggal, parkir kemalaman, atau tidak memasang alat pengaman lebih. Variabel ke dua adalah, kelalaian satpam dalam menjaga kendaraan, misal luput dalam pemerikasaan STNK, lengah saat menjaga area parkir. Variable ketiga adalah sistem kebijakan parkir yang inkonsisten. Sering bergantinya sistem parkir di UB menjadi sebuah celah bahwa sistem keamanan di UB masihlah rapuh dan belum ada yang digodok lebih matang, terkesan tambal sulam. Seperti halnya kebijakan karcis parkir yang tidak bertahan lama, penggunaan kartu parkir yang tidak konsisten, serta sistem monggo pak yang telah lama dibudayakan. Sistem monggo pak ini sering kali menjadi celah dalam proses pengamanan. Budaya yang terlalu ramah ini ternyata dapat menjadi salah satu variable lain yang perlu dipertimbangkan. Dengan kalimat monggo pak STNK tidak lagi menjadi legitimasi sebuah kendaraan untuk keluar gerbang, yang lebih kuat adalah relasi kedekatan atau merasa dekat. Sehingga terkesan menyepelekan. Bisa kita bayangkan, berapa banyak mahasiswa ataupun kayawan yang menggunakan senjata monggo pak sebagai alih-alih malas mengeluarkan STNK atau alasan tidak membawa STNK. Dan dalam fenomena tersebut terdapat peluang pencuri motor keluar dari wilayah kampus dengan lebih mudah.
Yang terakhir adalah variabel yang sering kali kita sebut-sebut tetapi tidak pernah ada wujud. Yaitu mafia pencuri motor. Hal ini adalah sebuah asumsi yang belum pernah bisa dibuktikan tetapi patut sekali untuk dipertimbangkan. Mafia ini diasumsikan dengan adanya sebuah ikatan kerjasama antara orang dalam dengan pencuri. Tetapi bicara mengenai hal ini seperti membicarakan hal yang metafisik. Hanya bisa menerka-nerka dan merasakan keberadaannya saja, belum sampai untuk membuktikannya. Dari ketiga variabel tersebut sebaiknya menjadi sebuah landasan untuk mencari akar permasalahan, dan jalan keluar yang solutif. 
Beberapa jalan pemecahan masalah telah dilontarkan oleh beberapa pihak terkait sepertti kasubag sarana prasarana rektorat UB dan menteri advokesma bagian penanggung jawab fasilitas. Soslusi yang ditawarkan adalah dengan membuat lahan parkir terpusat. Dan menurut saya, solusi ini sama sekali tidak solutif. Bagaimana bisa parkir terpusat bisa menjadi solusi terbaik? Apa bedanya dengan parkir tidak terpusat? Apakah maksudnya adalah, apabila ada yang parkir pada area parkir yang tidak terpusat maka tanggung jawab keamanan bukan lagi tanggung jawab universitas? Atau hanya sebuah perencanaan yang menganggarkan dana yang lebih banyak lagi untuk pengadaan lahan parkir terpusat? Atau sebagai strategi untuk mengurangi pengeluaran upah satpam, karena dengan parkir terpusat jumlah tenaga keamanan akan lebih berkurang? Ya, asumsi asumsi tersebut belum bisa dibuktikan, karena parkir terpusat masihlah sebuah wacana yang tidak segera terlaksana. 
Bagaimana bisa sebuah fenomena pencurian motor diselesaikan dengan cara pembangunan lahan parkir terpusat? Logika yang dipakai sama halnya dengan logika metode pembuatan kebijakan negara kita yang sifatnya inkremental atau tambal sulam. Tidak menyelesaikan sebuah masalah. Melainkan menyelesaikan masalah dengan menyediakan masalah baru. Menyelesaikan masalah tanpa menarik akar masalah utamanya. Lebih tidak nyaman dihati lagi mendengar bahwa dalam fenomena pencurian motor ini sanksi yang dikenakan terhadap satpam begitu memberatkan. Hal ini saya dapat dari keluh kesah beberapa satpam yang enggan disebutkan namanya. Dengan dikuranginya gaji mereka 15%-20% atas pertimbangan kelalaian dalam menjalankan tugas. Satpam mana yang lalai? Bagaimana bisa dikatakan lalai? Bagaimana bisa angka 15% dan 20% ini muncul? Saya rasa itu adalah penyelesaian yang rasional tetapi tidak manusiawi. Bagaimana bisa memberlakukan sanksi sedangkan masalahnya saja belum ditemukan benang merahnya? Sebuah sanksi yang absurd dari penarikan kesimpulan yang dipaksakan. Apabila kita perhatikan premis-premis di awal, overload lah yang menjadi kata kuncinya. Artinya, akar masalah inilah yang sebenarnya harus diangkat dan dicarikan penyelesaiannya. Karena akar masalah ini tidak hanya menimbulkan fenomena pencurian motor saja, bahkan merambah sampai kualitas akademik dari mahasiwa. Sebuah rangkaian sebab akibat yang beruntun dimana penyelesaian muncul sebelum mengetahui sebab yang pasti, adalah sebuah peyelesaian yang absurd. Sebuah pertanyaan besar di akhir tulisan ini adalah, apakah pihak UB mau menekan jumlah mahasiswa baru yang masuk? Dengan memprioritaskan kualitas bukan kuantitas.  

Comments

Popular Posts