Nyanyian Menuju Kematian (2)
“Kemas pakaianmu, Le. Bawa barang seperlunya. Besok ikut
bapak ke Jawa. Sekarang kita masak ikan-ikan ini dulu. Makan besaaaarrrr…”
“Ikan apa
ini pak? Kok bukan seperti ikan yang biasanya?”
“Haha, kamu
lupa Le kalau sungai kita ini jadi tempat tinggal ratusan spesies ikan? Lebih
dari dua ratus spesies ikan Le. Mungkin dua ratus kali pula kamu makan jenis
ikan yang berbeda.” Jawabnya dengan kikik tawa, sambil mencuci ikan-ikan dalam
timba.
Ole berjalan
mendekati bapaknya dan membantu membersihkan tubuh ikan dari kotorannya sebelum
diserahkan ke tangan ibunya untuk dimasak. Sambil membersihkan tubuh ikan,
apakah Ole berhenti bertanya? Ternyata tidak, suaranya sudah seperti komentator
pertandingan sepak bola yang tidak ada hentinya bicara. Di sudut lainnya ibu
Ole hanya tersenyum seperti hari-hari biasanya mengamati anaknya tumbuh dan
berkembang begitu cepat.
“Le, bawa
sini nak ikan-ikannya. Bumbu sudah ibu siapkan. Tolong kamu potongkan daun
pisang di kebun belakang ya, Le.” Ole pun telah paham bagaimana cara memotong
daun pisang dari dhebognya. Daun
pisang yang mana yang enak untuk dijadikan bungkus masakan, dan ukuran yang pas
untuk dijadikan bungkus masakan. Lalu kembali dan menyerahkan daun-daun pisang
itu pada ibunya.
Sambil
menyerahkan daun pisang itu, wajah Ole terlihat penasaran akan suatu hal. “Buk,
apa mbah kakung dulu seperti bapak? Ole heran, baru kali ini Ole merasa ragu
untuk melakukan sesuatu. Setiap kali bapak menasehati Ole, Ole merasa berada di
sebuah medan magnet yang sangat kuat, Buk. Ibuk bisa bayangkan to bagaimana
rasanya? Padahal aku ini sudah berusaha untuk menjadi kutub yang sama dengan
bapak. Tapi kenapa medannya begitu kuat ya buk?” bisik Ole pada ibuknya sambil
mengusap daun pisang dengan lap.
“Ya begitu
itu Le bapakmu. Yang jelas, mbah kakung dengan bapakmu tidak mungkin sama Le.
Mereka ada pada ruang dan waktu yang berbeda. Mbah kakung hidup pada waktu yang
berbeda, suasana beserta fenomena yang dihadapi pun berbeda. Perkara medan magnet, kamu lebih paham tentang apa saja yang
membuatnya semakin kuat kan.” Jawab ibu Ole perlahan, takut terdengar suaminya.
Ole terdiam, tetapi terlihat tetap belum puas dengan jawaban ibunya. Biasanya
setelah ia lontarkan suatu pertanyaan yang jawabannya belum puas Ole dapatkan,
ia akan pergi ke rumah pohonnya berdiam diri dan baru kembali ke rumah saat
hari mulai gelap.
Kemudian percakapan
itu berhenti beberapa saat, digantikan dengan kesibukan membungkus ikan dan
bumbu dalam lintingan daun pisang. Beberapa lintingan saja, cukup untuk makan
bertiga. Sambil menunggu matang, Ole pun bergegas mandi tanpa banyak kata-kata
lagi. “Buk, besok Ole biar ikut aku ke Jawa untuk beberapa hari. Sering kali
haruslah kita pula yang memperluas dan memperbanyak pilihannya. Biarkan dia
terbentur-terbentur dahulu, bahkan mungkin terjatuh dan terluka. Aku hanya
tidak ingin Ole menjadi laki-laki yang lemah, apalagi manja.” Ujar laki-laki
muda pada istrinya setelah memastikan anaknya, Ole masuk ke kamar mandi. Ia
mengarahkan pembicaraan ini pada pembicaraan yang serius. Istrinya telah biasa
dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Dan tugasnya adalah menentramkan hati
suaminya, sama seperti yang ia lakukan saat pertanyaan-pertanyaan aneh keluar
dari mulut Ole anaknya.
“Mas, anak
kita bukan seperti anak-anak seumurannya. Aku mengerti maksudmu untuk
mencegahnya masuk sekolah formal. Aku percaya kamu punya pertimbangan yang
sangat kuat dan cara yang lebih baik untuk membuatnya belajar. Lakukanlah apa
yang mas yakini benar. Aku mencintai kalian berdua, dan doaku tidak pernah
putus untuk kedamaian hati kita semua,” sambil tersenyum dan mengelus bahu
suaminya perempuan berdarah ningrat Jawa itu meyakinkan suaminya dengan senyum
yang begitu menentramkan. Teringat betapa kuatnya tekad mereka untuk membangun
sebuah kehidupan yang jauh dari kemunafikan, kehidupan yang penuh rasa cukup
dan kehidupan yang tak sesederhana seperti jumlah anggota keluarga kecil
mereka. Dibangun dengan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari sebuah sistem
makro yang saling mengisi sebagai rangkaian sebab akibat. Meskipun mereka belum
mampu memahami ruang sebab mana yang harus mereka isi dan momentum akibat mana
yang akan mereka terima.
Beberapa saat kemudian Ole keluar
dari kamar madi.”Sudah matang buk?” tanyanya seperti orang-orang yang kelaparan
berlari kecil dengan rambut yang masih berantakan menuju meja makan. Menyeret
kursi dari meja makan, kemudian duduk manis di samping bapaknya. Tanpa banyak
bicara Ole mengambil sebuah piring, mengisinya dengan beberapa sendok nasi,
mengambil selinting pepes ikan dan menyantapnya tanpa sebuah protes. Benar-benar
lapar sepertinya. “Pelan-pelan Le, hati-hati banyak duri ikannya,” tegur sang
ibu. Kemudian suasana tentram menyelimuti keluarga kecil ini. Tanpa banyak
perbincangan mereka makan dengan lahapnya, kemudian seraya bersyukur atas
nikmat yang mereka dapat hari ini.
###
Rokok memang tak pernah lepas dari
apitan jari-jari tangannya. Kali ini ia lumuri sebatang rokok sisa kemarin
dengan lethek kopi hitam yang
bercampur kacang hijau. Begitulah ia menikmati sekejap hari-harinya. Semakin
berat dihisapnya, semakin berat beban hidup yang ia rasa-rasakan. Menjadi
seorang pengutuk waktu bukanlah sebuah profesi yang aman tentram. Bisa
dibayangkan setidaknya seperti orang-orang pengikut PKI yang tak pernah tidur
karena tubuhnya terancam, tidak aman, dan sedang menunggu tibanya maut dari
tangan-tangan tak berhati. Ya seperti itulah kira-kira yang ia rasakan.
Meskipun mungkin tak akan sama persis. Mana ada di masa sekarang tempat yang
bisa dijadikan penghidupan untuk orang-orang semacam ini. Hidup di masa
sekarang ini untuk bernafas saja harus sadar. Kalau tidak, barangkali
pembelotan-pembelotan peran bisa terjadi bahkan dalam seper sekian mili detik. Hidup
pada masa sekarang ini duduk saja bisa kena chas, bisa diartikan kita dilarang
duduk dan bersantai berlama-lama. Untuk apa? Entahlah, semoga Tuhan masih tetap
setia dengan sifat-sifat agungnya.
Berbeda dengan hari-hari biasanya,
kali ini ia duduk bersama seorang perempuan di sebuah warung kopi. Dan untuk
sekali ini ia rela tidak mengeluarkan senjatanya di hadapan perempuan itu. “Apa
masih perlu ditanya? Masalah jelma menjelma, manusia juaranya. Hujan deras di
kotamu, tak mampu lagi lunturkan wajah-wajah palsu. Cermin - cermin di sudut
kamarmu pun tak punya nyali luruhkan refleksi semu. Spektrum cahaya bukan lagi
sarana untuk bermimikri ria wahai gadis.”
“Apa kau masih tak sadar, ada mata
bermata? Jauh, tak seperti mata-mata pada umumnya yang terbuka hanya seper sekian
ribu detik dari nyalanya nyawa. Sebenarya apa yang erat-erat kau genggam? Hidup
bukan untuk digenggam. Apa topeng berlapis-lapis yang kau kenakan ke sana
kemari itu tak memberi kesempatan pada matamu untuk melihat apa yang seharusnya
erat kau genggam?” kalimat-kalimat yang
ia lontarkan tanpa henti setelah mulut perempuan itu berhenti bercerita
menyisakan isak tangis yang tak henti-hentinya. Laki-laki itu kemudian hanya
bisa terdiam dan menunggu perempuan di depannya berhenti menangis. Tak ada niat
untuk mengusap dan menghentikan tangisan itu. “Biarlah semuanya keluar, biarlah
tangis beban ini hilang hari ini. Lanjutkan hingga kau puas, lanjutkan hingga
kau bosan.”
###
“Ayo Le kita berangkat!” teriak
laki-laki itu pada anaknya yang sedang mengambil tasnya di dalam rumah. “Iya
pak, aku masih mencari kameraku, apa bapak lihat?” Ole terlihat gusar mencari
kameranya yang entah dimana. “Bukankah kamu telah memakai kamera terbaik di
jagad raya nak? Pergilah, tidak akan ada yang menandingi milikmu itu.” Tegur sang
ibu sambil menunjuk ke arah matanya. Ole pun berdiri kemudian tersenyum.
Berlarilah ia ke tubuh ibunya, memeluknya, mencium keningnya, dan mencium
tangannya. “Ole berangkat ya buk. Doakan bapak dan Ole. Nanti sampai Jawa Ole
kasih kabar Buk.” Di atas motor trail laki-laki itu menunggu Ole keluar dari
dalam rumah. “Le, jangan membuat ibumu makin rindu saja nanti. Ayo lekas
berangkat.”
Ole pun berlari keluar dan naik ke
atas motor trail bapaknya. “Buk, tunggu Ole pulang yaa. Nanti masak yang enak
ya buk kalau Ole datang.” Setelah semuanya siap dan dirasa aman, kedua
laki-laki kesayangan perempuan satu-satunya di rumah itu pun berangkat.
“Hati-hati Le, ingatkan bapakmu kalau ibuk menunggunya di rumah.” Mereka pun
berangkat. Daerah Kapuas Hulu ini bukanlah daerah yang syarat akan akses
kemudahan. Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai sebuah kota besar yaitu
Pontianak sebelum melanjutkan kea rah pelabuhan. Jaraknya sekitar dua ribu kilo
meter dengan medan yang tidak bisa membuat hati tenang. Kanan kiri penuh dengan
hutan yang menjadi tempat tinggal lima ratusan spesies tumbuhan dan ratusan
spesies hewan. Kurang lebih lima belas jam jika tanpa istirahat, waktu yang Ole
dan bapaknya butuhkan untuk tiba di Pontianak.
Di sepanjang perjalanan, dengan
kondisi rute yang sedemikian rupa, Ole tidak bisa membiarkan perjalanan ini
tanpa makna. Ia lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kadang terdengar konyol.
“Pak, berapa tahun lagi ya pak perjalanan kita ke jawa tidak lagi sepanjang dan
selama perjalanan kali ini?” Tanya Ole dengan wajah polos yang ia tunjukkan
melalui kaca spion motor. Laki-laki muda itu hanya tertawa mendengar pertanyaan
anak tunggalnya ini. “ Bisa bapak pastikan, tidak akan lama lagi Le” jawabnya
singkat sambil tetap fokus pada jalanan yang semakin lama semakin terjal. “Bapak tak yakin gurumu di sekolah nanti mampu
menjawab pertanyaanmu Le."
Mendengar jawaban dari laki-laki
yang memboncengnya, Ole terdiam. Untuk anak seumurannya bisa dikatakan jarang
dapat berpikir sepertinya. Berkilo-kilo perjalanan keheninganlah yang menjadi
teman anak dan bapak ini. Dalam benak laki-laki muda beranak satu hanyalah
terpikirkan bagaimana menceritakan tentang mengerikannya dunia pada anak
tunggalnya. Menyampaikan bagaimana seharusnya anaknya akan bersikap ke depan. Mungkin
anaknya akan lebih mudah untuk tidak terima, tapi bagaimanapun akan ia
sampaikan. “Le, apa kamu mau mendengar cerita bapakmu ini? Dengarkan saja,
jangan bertanya. Setelah bapak selesai cerita barulah kamu boleh bertanya” ucap
bapaknya dengan suara yang lantang agar tak kalah dengan angin. “Bagaimana
kalau kita berhenti pak? Angin dan jalanan sepertinya tak berpihak,” usul Ole.
Tidak lama kemudian laki-laki itu berhenti di sebuah surau.
Laki-laki muda itu mengeluarkan
bungkus rokoknya yang masih baru. Ia nyalakan korek api lalu mulai menghisapnya
pelan-pelan. Beberapa hisapan kemudian, mulutnya mulai berkicau tentang sebuah
cerita kepada anaknya, Ole. Tentang cerita yang membentuk hidupnya selama ini.
“Apa yang kau pikirkan tentang sebuah keberadaan Le? Apakah kamu benar-benar
ada?” Ole hanya terdiam, teringat kata-kata bapaknya yang menyuruhnya hanya
mendengarkan saja. “Bapak dulu juga tidak pernah bisa berhenti menanyakan
hal-hal yang konyol seperti yang sering kali kamu tanyakan saat ini. Bahkan pertanyaan-pertanyaan
bodoh sekalipun bapak lontarkan.”
“Mungkin kamu tidak akan bisa
percaya begitu saja tentang apa yang bapak ceritakan, Le. Tapi biarlah segala
penafsiranmu yang memaknai cerita bapak.”
“Pada suatu ruang yang aku pun tak
pernah meminta untuk hidup dan tinggal, aku bertemu dengan berbagai macam orang
yang terpaksa aku kenal. Aku gagal dilahirkan dari lubang anus ibu, dan
mengharuskan menyayat perut ibuku untuk mengeluarkanku. Posisi kepalaku tak
wajar, badanku melintang, dan bisa kau bayangkan bagaimana rasa sakit dan
pertarungan nyawa ibu dan nyawaku saat itu. Tetapi Tuhan menyelesaikan
pertandingan dengan seri. Entah itu awal pertanda apa untuk permulaan hidupku.
Hal ini terulang pada kelahiranmu. Asal kau tau. Bapak telah sepakat untuk merelakan
ketiadaanmu di hidup kami, bapak memilih keselamatan ibumu. Namun Tuhan berkata
lain, Ia menyelesaikan pertandingan serupa dengan skor seri pula. Dan disini
kamu akhirnya nak, berada di antara ketiadaan harapan dariku, ada
ditengah-tengah kisah yang seolah-olah adalah reka ulang. Aku tak pernah
memintamu atau menyuruhmu untuk melakkukan juga apa yang bapak dan ibu lakukan
di depanmu. Dari ritual-ritual hidup pagi hingga petang. Aku tak pernah
memintamu untuk menuruti apa yang bapak katakana. Hanya satu yang kupaksakan
padamu nak, belajarlah. Dari hal sekecil apapun. Bahkan dari seekor ikan yang
kau makan pun dapat kau pelajari. Bapak tak pernah tidak menjawab pertanyaanmu.
Bapak tidak pernah memaksamu untuk selalu menyepakati jawaban bapak. Bahkan bapak
bolehkan kamu berontak untuk sesuatu hal yang tidak kamu sukai dan tidak kamu
yakini benar dari apa yang bapak ibumu lakukan. Kali ini aku melarangmu untuk
sekolah nak, entah, sepertinya kamu akan sulit menerimanya. Teman-temanmu semua
bersekolah, memang iya. Tetapi tidak sekolah bukan berarti kamu tak bisa
berteman?.”
“Semoga perjalanan ke Jawa ini
dapat menjadi pertimbangan untukmu. Untuk merubah sesuatu yang tidak baik
memang dibutuhkan sebuah perjuangan. Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan
omongan orang tentang hidupku. Persetan orang berkomentar apa. Jikalau tugas
kita menjelaskan kepada mereka apa maksud kita, aku hanya berdoa maksudku
diterima dengan benar sebagaimana seharusnya. Jika tidak pun, paling tidak bisa
dijadikan sebuah pelajaran bahwa orang sepertiku adalah orang yang salah dan
jangan ditiru. Pada titik ini Le, bapak tidak bisa merasakan mana yang nyata
dan mana yang seolah-olah nyata. Bahkan bapak masih terus mempertanyakan soal
keberadaan. Bapak ingin kamu mencari sebuah pusat dari segala hal, dan kemudian
barulah kamu berputar berporos pada Pusat itu. Tidakkah untuk masa kini kamu
tidak bisa menerima lagi hal yang mengandung kata “katanya”, “menurut ini”,
“tertulis begini”. Sekolahmu nanti, bapak pastikan akan mengajarkanmu tentang
hal-hal yang bapak sebut itu. Dan seharusnya bukan itu yang kamu cari. Sebuah
kematian akan datang perlahan, karena sel-sel otakmu dihentikan perlahan,
dibiarkan tidak berkembang, dan menyusut diiringi denyut-denyut makna yang
kosong.”
Bersambung…..

Comments