Menuju ke...
Wahai perempuan dimanapun kamu berada...
Pernahkah kamu merasa menjadi seorang makhluk yang paling bodoh di dunia, tak mengerti apa apa kecuali rasa sakit dan bahagia? Pada saat itu kamu belum tahu dan mengerti, siapakah makhluk yang bernama manusia itu sebenarnya. Kamu masih belum mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan tinggi derajadnya karena akal budinya. Yang kamu mengerti saat itu adalah bagaimana caramu memperoleh rasa bahagia dan dengan keras berusha menghindar dari rasa sakit atau rasa tidak nyaman. Sehingga hanya tawa dan tangis saja yang ada sebagai wujudnya. Lalu usiamu yang kian menuju tangga kedewasaan, mempertemukanmu dengan rangkaian sunatullah yang sering disebut hukum newton 2 yang berbunyi "untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah" atau yang akrab didengar oleh telingamu sebagai hukum sebab akibat. Sesuatu yang kau tanam, pastilah akan kamu tuai hasilnya.
Lalu kamu berusaha beranjak dari kebodohan dan ketidaktahuan itu dengan rasa malu-malu dan ragu-ragu. Kamu lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang apabila kamu pikirkan saat ini pertanyaan-pertanyaan itu tidak kalah bodohnya dengan kebodohanmu artinya sama bodohnya. Tetapi yang kau dapatkan pun jawaban yang lebih bodoh lagi. Kemudian kamu berpikir, ternyata menjadi seseorang yang bodoh pun tak masalah, asalkan kamu mengerti dan sadar tentang apa itu menjadi bodoh, lalu kamu terima kenyataan itu dengan hati yang lapang dan beranjak ke tempat lain untuk melontarkan pertanyaan -pertanyaan bodoh lainnya.
Tiba kamu di suatu lembah yang bernama lembah kebingungan, yang dapat kamu lihat adalah lumut-lumut dan paku-pakuan, gunung yang tinggi menjulang, dan lagi-lagi kebodohan dan ketidak tahuanmu. Hingga kamu merasa bingung, seperti nama lembah yang kamu pijak itu. Kamu bingung dengan maksud ini semua. Kamu sudah coba untuk berkelana pergi ke suatu tempat jauh yang belum pernah kamu kunjungi, tetapi kamu masih saja tetap menemui dua hal itu, kebodohan dan ketidaktahuan. Lalu kamu tak punya siapapun untuk kamu jadikan teman, dan tak ada siapapun yang dapat kau tanyai pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalamu. Kamu merasa tak betah menyimpannya, dan dengan bodohnya kamupun bertanya pada lumut-lumut, paku-pakuan, dan gunung tinggi. Kamu tanyakan apakah mereka mengenalmu. Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang kau tanyakan. Bagaimana mereka bisa menjawab? Mereka tak bisa bicara. Begitu pikirmu dalam hati setelah mengucapka pertanyaanmu.
Suara gemrisik tiba-tiba datang dari arah selatan, diikuti dengan suara rumput berair bergesek dengan kaki. Dan kemudian angin yang berhembus dari atas gunung, membuatmu sadar bahwa ini asing bagimu. Lalu kamu curiga, prasangkamu lembah kebingungan tak menyukai kehadiranmu. Tak banyak bicara, langkah mundur kau tapak pelan-pelan. Kemudian, suara suara dan desir angin berhenti serentak. Kamu semakin kebingungan apa maksudnya. "Hai perempuan muda, salah jika kami tak mengenal bangsamu, terutama jenis sepertimu. Jangan buru-buru pergi, karena yang buru-buru tidak akan pernah mengerti sebuah sistematika yang sungguh besar ini bekerja. Terlebih kamu termasuk ciptaan-ciptaan yang memiliki cinta kasih lebih besar dibandingkan dengan lainnya. Itu sudah jadi pemberianNya, kamu tak bisa menolak. Hanya saja bangsamu terlalu sering berprasangka buruk dan menyakiti satu sama lain. Seringkali menyakiti kita-kita ini." Suara berat datang berasal dari puncak gunung. Kamu terperanjat, dan mengurungkan niat untuk kembali.
Lagi-lagi kamu menjumpai, kebodohan yang muncul tanpa alasan.
Comments