Nyanyian Menuju Kematian (1)
“Tak akan ada gunanya aku berdebat dengan mereka, barangkali hanya akan menjadi sebuah ring pembantaian yang sia-sia”, salah satu penggalan mantera-mantera jagad raya yang tak henti-hentinya. Kemudian lelaki itu berdiri dengan tatapan layaknya seorang pemain tinju yang siap meluncurkan pukulan maut pada lawan tarungnya. Berjalan sambil membawa sisa kopi menuju teras dan duduk bersila. Sekali kopi diteguknya sambil tangannya meraba saku celana berburu sisa rokok tadi malam.
Dinyalakan sisa rokok terakhirnya dan dihisapnya dengan perlahan karena terasa berat seberat hati dan pikirannya pagi itu. Memang sedang tak ada orang lain di rumah, mungkin sedang meramaikan kunjungan luar negeri atau sambang bisnis antar pulau. Dihisapnya sekali lagi lalu berhenti. “Adakah ruang tersisa untuk seorang pengutuk waktu di tengah-tengah para makhluk yang tunduk pada waktu? Atau adakah ruang untuk sekedar bertanya soal sebab akibat yang ada?” lagi-lagi mantera-mantera keluar dari pahit mulutnya. Tak banyak yang dapat mengerti tentang apa yang dipikirkannya itu. Seringkali ia gunakan seluruh waktunya untuk menyendiri seperti ini. Karena dalam kesendiriannya, ia berusaha memahami tentang keramaian-keramaian yang membuat orang-orang semakin jauh dari sifat kemanusiaan.
###
Seorang laki-laki muda berjalan menyeret kaki sambil menghisap rokok yang tak pernah lepas dari hari-harinya. Tangan kirinya memegang beberapa ikan hasil memancing di hulu. Ia berjalan menuju rumahnya yang berukuran tak begitu besar di belakang sebuah gereja. Kanan kirinya penuh dengan pohon jambu air dan pohon mangga, sedangkan saf-saf anggur berbaris menjadi pagar rumahnya. Dari dalam rumah berlari seorang anak laki-laki tampan yang baru kemarin diterima masuk sebuah sekolah dasar. Ia berlari untuk memeluk bapaknya sambil berteriak, "Pak besok aku sekolah!" pelukan anaknya ia sambut dengan kedua tangan, ikan-ikan dari hulu ia letakkan begitu saja, puntung rokok dibuangnya. Ia gendong ke atas kepala, hingga anak laki-lakinya itu duduk di atas leher dengan kaki menggantung di bahu kanan kirinya Ia ambil ikan hasil memancing di hulu lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
."Le, opo kamu bakal suka dengan sekolahmu kali ini? Opo kamu ndak rindu sama bapak kalau kamu setiap hari ke sekolah?" sambil menurunkan anak laki-lakinya, ia dudukan di sebuah meja yang penuh dengan kertas dan buku. Ia tatap mata anak laki-laki satu-satunya itu.
"Pak, kalau aku cuma main di ladang sama bapak, mincing ikan di hulu, berburu burung di hutan, apa ya aku bakal bisa pinter kayak orang-orang di kota?” Tanya anaknya dengan segala keluguannya.
“Le, orang-orang di kota memang pinter. Tapi mereka ndak pernah bisa ngerti sama dirinya sendiri. Mereka ndak pernah paham pentingnya hutan, pentingnya sungai. Mereka cuma tau apa itu hutan, dan apa itu sungai. Bapak pun ragu tentang apa yang mereka tau tentang hutan dan sungai.” Ole mendengarkan apa yang dikatakan bapaknya, dan kemudian terdiam.
Ole adalah anak yang dibesarkan oleh sebuah keluarga kecil di daerah hulu Sungai Kapuas. Terlahir sebagai buah cinta dari sepasang suami istri yang tiga tahun lalu menyebrangi laut jawa untuk meninggalkan hiruk pikuk dan kepadatan perkotaan. Seorang bapak yang tidak lagi ingin berkompromi dengan nasib yang dikendalikan oleh ketundukan yang membabi buta, dan ibu yang tidak pernah bisa ingkar pada kata hati nuraninya. Keluarga sederhana dengan pikiran yang tak sederhana.
###
Tak pernah ia merasakan kemanusiaan diinjak-injak layaknya keset depan rumah saat musim hujan. Membersihkan segala permukaan sepatu dan sandal agar tak mengotori lantai rumahnya. Manusia yang tak pernah memahami apa itu rumah dan bagaimanakah rumah bisa dikatakan rumah. Mereka sibuk dengan segala macam ornamen yang memperindah, segala materiil yang berkelas, segala perabot yang harganya ratusan juta Ya, manusia sekarang sibuk dengan itu semua.
Sekali lagi ia hisap rokoknya, kali ini hisapan terakhir sebelum habis. Ia berpikir lebih baik hidup dengan kucing-kucing liar ketimbang hidup dengan manusia-manusia yang sedang nglali, paling tidak kucing bisa berhenti makan ketika merasa kenyang.
Ia teguk kopinya hingga habis, sambil dalam hati berkata “Kopiku yang makin manis atau hidupku yang makin pahit?” ia berdiri kemudian berjalan ke dalam rumah, menyalakan telivisi kemudian duduk. Terlihat berita penggusuran rumah bordil para PSK dimana-mana. Sang reporter menyampaikan pesan bahwa seolah-olah PSK adalah musuh besar yang benar-benar nyata dan harus segera diberantas habis. Ia lupa dengan nasib adiknya di kampung yang hanya bergantung pada kehidupan malam karena tak ada lagi tanah yang bisa digarap. Tak ingat akan hal itu, semakin lancar saja teks-teks arahan redaktur dibacanya dengan rasa percaya diri yang ia kumpulkan sekian lama untuk tampil di depan kamera. Ya begitulah salah satu jenit nglali nya para manusia.
“Tidakkah sekolah-sekolah yang mendidik manusia-manusia mengajarkan tentang apa itu sesungguhnya pelacuran? Bagaimanakah pelacuran yang paling berbahaya sekalipun? Para pelacur intelektual dan para pelacur hati nurani? Bagaimana dengan mereka? Dibiarkan begitu saja menginjak-injak para manusia lain yang dibodoh bodohinya?!”
Sayang sekali laki-laki ini hanya bisa berkutat pada pikirannya sendiri. Tak banyak yang mampu menerima pemikirannya. Tentang makna yang telah tercemar oleh doktrin-doktrin sesat yang mematikan akal, tentang cinta oplosan yang digemakan, dan tentang kesadaran yang semakin lama semakin hilang total.
Bergegas ia mengambil kunci motornya dan berpakaian seadanya, kemudian pergi menuju sebuah warung kopi. Tak pernah absen ia kunjungi tempat satu-satunya yang memperkenalkannya dengan hidup dan berbagai macam cara menikmati hidup. Soal dendam, soal kecewa, soal uang, soal Tuhan, soal kemiskinan, soal manusia, soal cinta, soal konspirasi dunia. Semuanya tersedia seperti mata kuliah pada perguruan tinggi. Hanya saja untuk menikmatinya tak perlu merogoh ongkos yang mahal. Untuk lulus pun tak perlu ada ritual wisuda yang konon semakin memiskinkan intelektualitas dan melahirkan para bibit-bibit penghuni rumah pelacuran.
Seperti biasa, suasana warung kopi yang selalu sesak akan caci maki serta puja-puji. Asap rokok yang sibuk pada penggung pertunjukan tari. Meja dan kursi tertata berkoloni. Serta peracik kopi yang tangan dan kakinya tak kunjung berhenti, barangkali untuk menikmati sisa jam kerja. Pramusaji yang tampak menyaingi pelayan hotel kelas pari, datang dan pergi sambil mencuri beberapa omong-omong soal hidup yang semakin redup. Sesekali duduk dan beberapa kali masuk pada ritual keluh-kesah, lanjut pada sesi harap-harap berjamaah, kemudian sumpah serapah.
Sedangkan di sudut warung kopi sang peracik kopi sibuk berbincang dengan butiran biji kopi, mungkin perbincangan telah sampai jauh. Karena sepertinya meraka telah dipersatukan olah kepahitan yang melekat. Tapi paling tidak mereka sama-sama sepakat, bahwa diperlukan orang-orang yang rela menelan pahit untuk melawan perbudakan waktu dan menjadi teman para manusia yang tak ingin menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mafia waktu. “Kau tau kopi? Malam memang sengaja dibuat menyeramkan dan sepi agar apa manusia lelap di ranjang empuk bukan lagi dari rotan dan klasa bamboo. Agar besok pagi-pagi tak ada alasan untuk mangkir dari kerja rodi dan jadi sapi perah di negeri sendiri” ujar peracik kopi sambil menggelar doa bersama dengan para biji kopi, agar malam tak buru-buru pergi dan pagi bukan lagi untuk para pejudi.
###
“Pak, bukankah sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat untuk orang lain?” Ole memang anak yang selalu ingin tahu, persis seperti bapaknya dulu.
“Bukankah bapak pernah bilang padamu, Le. Manusia saat ini sedang beramai-ramai menuju kematian dengan diiringi nyanyian-nyanyian merdu pembesar hati. Sudah tak peduli mana yang baik dan mana yang tidak. Mereka hanya peduli dengan perutnya yang harus kenyang, dengan kedudukan yang didewakan. Mereka sebenarnya tak pernah betul-betul berpikir bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat, melainkan menjadi manusia yang penuh tipu muslihat.”
“Pak, apakah aku harus sekolah?” tanya Ole sekali lagi.
“Kemas pakaianmu, Le. Bawa barang seperlunya. Besok ikut bapak ke Jawa. Sekarang kita masak ikan-ikan ini dulu. Makan besaaaaarrr…”
Bersambung….

Comments