Laki-Laki dan Perayaan Kematian
Kemarin malam telepon genggamku bergetar tak wajar, ternyata pesan darimu minta jawabanku segera. Apa daya, pulsa sudah mengeja, t i g a. Kau kirimkan pesan yang tak ada beda, terkesan memaksa. Sayang sekali, tak ada counter hape yang masih buka. Ya masih tetap sama t i g a, bisa apa? Kau menyerah dengan indah, kau sisakan namamu pada list panggilan masuk telepon genggamku. Dua tiga kali kau tutup kembali. Saat itu aku sedang di kamar mandi, kau tak mengerti. Kau cibir aku antara jarak bibirku dan bibirmu yang selalu beradu. Tapi sampai detik ini, aku tak pernah mengerti mengapa kau lakukan itu berulang kali. Mungkin karena aku lelaki.
Setelah urusan kamar mandiku tuntas, aku segera bergegas. Jangan kira aku tak lebih tangkas dari monyet tetangga sebelah rumahmu itu. Meski hanya dengan Honda keluaran d u a r i b u s a t u, tak perlu melirik waktu, ku sisir kemacetan yang sudah jadi santapan jalanan metropolitan. Entah berapa lamanya, aku sudah mengetuk pintu rumahmu yang terbuat dari jati tua asal Jogja dengan ukiran khas Surakarta yang berharga sekian juta itu. Aku tahu persis, karena papamu selalu menceritakan itu pada siapa saja yang berdiri mengetuk pintu.
Seakan kau tahu akulah yang mengetuk pintu, kau tak biarkan papamu lebih dulu membukakan pintu untukku. Dengan tekuk wajahmu akibat terlalu lama menunggu, kau sambut aku dengan bibirmu yang menggerutu, aku tak dengar jelas satu kata pun itu. Meskipun selalu begitu caramu sambut aku, senyumku tak pernah absen untukmu perempuanku. Selangkah dua langkah aku memasuki ruang tamu, dan selalu diikuti mata papamu yang duduk menungguku untuk beradu di ring tinju, pukulan telak ini itu kemudian pengajuan nota kesepakatan waktu pengembalian. Ah, kau ini seperti barang pinjaman saja, yang jika aku terlambat mengembalikan, aku harus bayar denda sesuai dengan yang tertera pada nota perjanjian. Setelah sepakat, kita pun berangkat.
Malam terlalu dingin dan terlalu asing untukmu, perempuanku. Selama masih bersamaku, dingin tak lagi dingin asing tak lagi asing, itu lirih bisikmu. Sepanjang jalan kita tak pernah sibuk perhatikan kiri kanan yang mesra berpelukan, bergandengan, kita tetap fokus pada satu tujuan. Perayaan tahunan. Sepertinya malam ini kita akan terlambat, kemacetan di bawah awan yang tak tahan ingin muntah, tak biarkan aku berulah pada celah antar arogannya mobil-mobil mewah.
Ini kesempatanmu untuk menggelitik isi perutku dengan pertanyaan-pertanyaanmu soal masa depan. Soal perayaan-perayaan, soal kapan lamaran, dan kapan resepsi pernikahan. Bagai bola api raksasa yang menggelinding ganas, panas, hempas hati yang keras. Crush!!
Jangan sampai kau tau kalau aku tak pernah memikirkan soal perayaan-perayaan, lamaran, apalagi pernikahan. Aku tak mau tanganku usap air mata kesedihan yang membuat pipimu semakin merah dan semakin basah. Aku tak mau kau tahu, perempuanku. Tapi yang harus kau tahu, aku tak pernah sedetikpun melewatkan angan tentang masa depan, itu saja yang harus aku pamerkan untuk meyakinkan. Aku hanya tak ingin, segalanya minim persiapan. Aku tak mau masa depan hanya sebagai bahan pameran, padahal belum benar-benar matang kau siapkan yang mengundang cibiran. Ya, meskipun aku tahu kau tak akan cepat mengerti. Tapi aku yakin kau orang yang akan mengerti. Terlebih dahulu aku harus benar-benar mapan.
Mataku pada jalanan, tapi pikiranku pada kenyataan yang benar-benar menyakitkan. Hatiku bahkan hanya bisa bergetar pelan. Andai saja sebelum Tuhan menciptakanku, ditanya terlebih dahulu ingin jadi apa aku. Jika seperti itu, aku tak akan memilih untuk menjadi seorang laki-laki, yang selalu punya lebih peran tanpa ekstra bayaran. Inikah satu-satunya jalanku menuju kematian? Ya, menjadi laki-laki .
Dibelakangku memang dirimu perempuanku. Tapi seringkali yang terbayang pada ambang angan itu papamu. Ya. Aku harusnya mengerti, selama ini kau milik siapa, dan pada siapa kau kuminta, dengan perayaan yang sewajarnya atau perayaan kematianku yang penuh makna. Kau saja yang berhak memberikan makna. Bukan papamu atau siapa pun. Perayaan kematian ini lah yang sudah pasti kujanjikan ntukmu perempuanku. Selebihnya, kau yang pilih.
Ini yang kutakutkan, kau terdiam. Tak satupun bincang kau indahkan. Matamu berkaca-kaca, retak. Aku tak tega.

Comments