Tuhan Bosan Main Catur



Sebuah negeri terlahir kembali, tapi kali ini bukan dalam bidak hitam putih yang berhimpit dengan pion-pion berdasi. Lebih lagi tersentuh tangan-tangan penuh ambisi asal makan sesama pion kanan kiri tanpa strategi. Sekian lama negeri ini berhibernasi kemudian sibuk meratapi dosa ratu-raja, perdana menteri, dan infanteri, belum lagi dosa-dosa prajurit yang lupa kendali. Begitu lama negeri ini terperangkap di tengah gegap gempita dosa-dosa kelam masa lalunya. Jangan pernah sebut itu sia-sia. Jangan jadikan sebuah penyesalan, jutaan orang mati berdiri menyangga bumi manusia ini. Soal Tuhan yang hobinya bercanda, dirasa benar adanya. Meskipun seringkali Tuhan bercandanya, bagi manusia keterlaluan seriusnya.
            
Di negeri ini, dulu raja-raja bertahta atas segalanya. Rakyat tunduk pada perintahnya, dan merunduk saat kuda sang raja berjalan di hadapan mukanya. Andai saja Tuhan menunjukkan nyata wujudNya, negeri ini akan selalu berada pada genggam tangan kananNya. Hanya saja, ruang dan waktu tidak mudah dikawinkan, jadi hanya tinggal wujud rupa dugaan-dugaan. Para rajapun tak pernah lengah dalam mengasah kemampuan menaklukkan lawan. Memperluas pengaruh, kekayaan, dan kekuasaan. Hingga rakyat pun tak pernah sanggup berpikir untuk mengutuk perbuatan raja-raja atau para akuwunya yang kikir.Memang peraturanNya tidak ada yang akan bertahan lama, semua fana.

Di sudut negeri lainnya telah terpancar sebuah cahaya dari kepala beberapa kesatria yang terbangun saat kaki-kaki bangsa arya tak pernah bosan menginjak banyak negeri gersang yang telah usang. Para ksatria benar-benar tidak rela membiarkan keindahan negerinya diinjak-injak kaki arya yang tak pernah dicuci dari darah-darah anti-kemanusiaan. Mungkin para ksatria telah bertemu Tuhan dalam mimpinya sebelum menebas kaki para arya. Atau Tuhan berbaik hati membisikkan strategi permainanNya, karena Tuhan pun tak pernah mengelak untuk memihak. Hasilnya, para ksatria menghentikan digdaya kemenangan arya dengan warna-warni tameng dan macam rupa-rupa senjata. Lebihnya, ksatria-ksatria ini nampaknya cukup pandai berpuisi untuk sekedar mengelabuhi modernisasi.
            
Rupanya, Tuhan memainkan aturan dengan banyak kelonggaran, dosa para kesatria belum diakumulasi dan bahkan bisa saja dimaklumi. Tanpa harus terheran, aturan bisa berganti-ganti tanpa harus konfirmasi, padahal yang bisa berganti-ganti seharusnya hanya strategi yang konon untuk diriNya sendiri.
            
Salah satu kelonggaran yang ada dalam aturan mainNya, Tuhan kali ini menjadikan kastria jadi lakon utama, bukan ratu atau raja. Itulah mengapa Ia ciptakan ksatria untuk bebas berjalan kemana saja. Selebihnya biarlah para ksatria yang menentukan arah langkahnya. Hingga separuh permainan ini, ternyata taktik para ksatria dapat terbaca dengan mudah. Selain kaki-kaki arya, para ksatria membenci langkah kaki-kaki raja yang semakin membabi buta di masa-masa yang seharusnya pion-pion manusia semakin memasuki sebuah peradaban gemilang. Sempat tersebut langkah dominan ksatria merah. Para ksatria bernafas islam, memakai jubah turunan seorang Mpu yang langsung diimpor, dan spesifikasinya menyatakan bahwa ia telah jauh lebih dulu bersilaturrahmi dengan modernisasi, Mpu Marx. Kesatria merah juga membawa senjata berupa keris lekuk tujuh yang dibuat oleh Mpu impornya. Entah sejauh apa pemahamannya tentang kitab-kitab mahakarya Mpu Marx dan kawan-kawannya ini, tapi yang jelas ksatria merah layaknya api tanpa toleransi meyakini yang layak mereka yakini dan lantang berteriak didahului tarikan nafas dalam, teratur,  berirama, dan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi untuk menyingkap kekejaman kaki-kaki arya, dan langkah raja yang semakin memperjelas kegilaan mereka. Konon kaki-kaki arya dan langkah para raja berkiblat pada sebuah dinasti yang telah besar nama dan pengaruhnya, yaitu dinasti kapitalis yang memunculkan ramalan bahwa dinasti mereka akan terus menggerus habis fitrah para manusia-manusia di bumi dengan bengis.
            
Memang telah diceritakan pada kitab-kitab lama tentang kekejaman dan kejayaan dinasti kapitalis. Bahkan tentang keruntuhannya. Diceritakan bahwa kekejaman dinasti ini hadir dengan wajahnya yang lain. Wajah yang menggiurkan, mengagumkan, menyilaukan, dan menjanjikan masa depan. Para rajanya sudah sangat mahir mengorganisir  waktu untuk menguatkan dan melemahkan syaraf-syaraf rasio dalam satu waktu sekaligus. Rasionalitas yang terlepas bebas dari jeratan doktrin-doktrin anonim, seketika tumpul dan  lumpuh, seketika pula menjulang bak mercusuar yang menyilaukan. Rasionalitas ini menjadi kekuatan dan kelemahan sekaligus, dan secara sengaja dibuat agar para manusia penghuni bumi tak bisa membedakan keduanya. Katanya, sudah saatnya dunia melepaskan diri dari masa lalunya dan bergegas menjemput sebuah masa bernama  kejayaan industrialisasi.
            
Pada dasarnya sang ksatria merah bukan membenci pertumbuhan rasio, tetapi akan memusuhi rasionalitas tinggi bahkan ketololan rasio sekalipun yang mengeksploitasi, menindas, dan merampas kedamaian seluruh umat manusia. Karena pada benaknya, ia tidak membiarkan ketidak adilan lahir dan tumbuh gemuk di bumi negerinya. Semua berhak hidup dengan tentram, damai, dan mendapatkan keadilan sesuai porsinya. Tidak ada yang menumpuk kekayaan, seperti yang dilakukan para raja-raja melalui pembelokan kuasa mengelola upeti dari rakyatnya. Tidak ada relasi yang menimbulkan pelapisan ekstrim, yang selalu berujung penindasan dan pemerkosaan nilai kemanusiaan. Bahkan ksatria merah lantang berteriak “perang!” untuk menumbangkan kaki siapa pun yang berdiri mengangkang di atas riuh tangis atas luka keadilan yang disetubuhi oleh ambisi gila produksi.
            
Tokoh utama pengemban mandat Tuhan ini dikisahkan tak pernah mau berhenti berusaha melegitimasi bahwa memang dia dengan kerisnyalah yang menjadi penyambung lidah kedamaian kerajaan langit dan kerajaan bumi. Ia mengumumkan bahwa keadilan dan kedamaian yang ia perjuangkan dengan keris lekuk tujuh dinastinya sesuai dengan apa yang telah diwahyukan dan dituliskan pada kitab suci, wahyu dari Tuhan. Dan kebenaran TuhanNya adalah kebenaran yang berlaku universal. Dasar memang ksatria merah ahli propaganda. Membuat sekelilingnya berkata ‘ya’ dan sepakat dengannya sepertinya memang mudah (tidak semua). Sayang sekali, dalam permainan caturNya ksatria bukanlah pion yang nyata wujudnya. Ia hidup di tengah-tengah langkah penuh utopia. Raja tetaplah penentu menang atau kalah dalam sebuah pertunjukan atas papan hitam putih dan pion-pion berdasi. Jika dengar-dengar Tuhan telah bosan menggerakkan pion dengan aturan lamanya, mungkin sekarang Ia sedang mencari permainan yang lebih besar untuk menghilangkan fatamorgana langkah para kesatrianya.
**
            
Cerita lain dinasti. Penindasan sebenarnya telah ada sejak lama. Semenjak dihembuskan ke dunia takdir-takdir manusia yang tidak pernah sama. Sejak manusia mengeluarkan sifat manusiawi dan hewaninya secara bergantian. Sejak masa sebelum manusia mengetahui bahwa mereka adalah manusia. Jauh sebelum dinasti disebut dinasti. Sudah ada.
            
Hanya saja cerita ini berasal dari dinasti yang bisa disebut dinasti paling tangguh hingga saat ini. Sebuah dinasti yang kuasanya hampir mencengkram seluruh plosok dunia. Dinasti yang berdiri semenjak keturunan manusia pertama Qabil dan Habil memulai sejarah pembunuhan atas nama keinginan atas kuasa. Semenjak manusia mengeklaim bahwa mereka adalah makhluk bebas dan merdeka. Semenjak semua hak diklaim sama, semua kemampuan diklaim sama rata. Bebas, sebebas-bebasnya bebas. Dinasti ini muncul kala itu. Dimana klaim-klaim tentang kebebasan menjadi boomerang bagi kebebasan itu sendiri. Dan perlahan dari bermain catur, Tuhan beralih bermain monopoli.  

            

Comments

118Full metafor. realitas hilang di tengah kata.
mohon bimbingannya mas, ben realitas ndak hilang di tengah metafor
Sangat sedikit yg mampu memahami tulisan ini,apalagi mengambil manfaatnya. Sayang sekali

Popular Posts