Sebuah Ketidakmengertian



 Dalam gelap kuberjalan, membelah belantara akal. Sendiri, selalu sendiri. Pada terang kumerenung, mencari kesejatian. Mencari, selalu mencari. Gitar kayu kumainkan, suaranya lahirkan tanya. Bertanya, selalu bertanya. Pada ruang, pada waktu aku ingin datang. Pada ruang, pada waktu aku ingin pulang.”


Semakin kemari, semakin banyak hal yang tak bisa kupahami. Saat ini sedang berhembus angin ketidakmengertian yang kurasa cukup berbahaya, bahkan sangat berbahaya karena kita belum benar-benar dalam keadaan sadar. Setelah kurang lebih satu tahun menjalani timbul tenggelam menjadi seorang mahasiswa, bukanlah menjadikanku seseorang yang mudah paham tentang realitas yang ada. Menjadi seorang mahasiswa yang tidak secara kebetulan mempelajari Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, ternyata membuatku harus berputar-putar untuk sekedar menemukan pintu masuk dari sebuah pemahaman tentang hidup. Sekedar itu. Belum lagi untuk menemukan kunci, rute, bahkan pintu keluar.
             
Angin yang kurasakan ini tidak memiliki siklus yang jelas, arah yang jelas, bahkan material yang jelas. Hanya berhembus, berputar-putar, dan tanpa kendali. Maka terbesit pertanyaan, apakah menjadi mahasiswa memang hanya untuk berhembus, berputar-putar, dan tanpa kendali? Belum banyak mata yang kutemui, apalagi mulut yang ku ajak beradu. Hanya beberapa yang kusepakati dalam pandangan, dan beberapa yang kuiyakan dalam ucapan. Tetapi dalam tindakan, belum juga kutemukan hingga sekarang.
             
Menyadari sebuah ketidakmengertian membuatku merasakan malu. Malu kepada Pemberi takdir yang terus menunggu, selagi terus kuikhtiarkan. Tetapi paling tidak, aku sadar akan sebuah ketidakmengertian ini. Ya, paling tidak itu. Banyak hal yang ingin kuceritakan sebenarnya, tetapi berhubung aku sedang dalam keadaan yang tidak mengerti, hanya sedikit sajalah ketidakmengertian yang akan kubagi dan mungkin harus kita resahkan bersama-sama, kemudian kita mengerti bersama-sama.
             
Sepakat atau tidak, mahasiswa seharusnya bukanlah seseorang yang pantas menyandang gelar ‘maha’, yang seakan-akan meletakkannya pada ambang batas tertinggi dari sebuah kualitas manusia. Kata tersebut disematkan gegara mahasiswa adalah manusia yang memiliki tingkat intelektual tertinggi. Tetapi yang kutemui justru kenyataan yang sebaliknya. Gelar ‘maha’ yang disematkan justru membawa mahasiswa mendekati ambang batas bawah dari kualitas manusia. Dan ternyata ketika menjadi seorang mahasiswa, kita justru melepaskan gelar manusia yang telah diberikan Penguasa. Ruang dan waktu yang seharusnya kita pakai untuk mencari hal-hal yang menjadikan kita lebih manusia, justru hilang di tengah-tengah lantangnya slogan kemanusiaan yang terus diteriakkan.
             
Menjadi mahasiswa, sudah seharusnya mengalami peningkatan level mulai dari pola pikir, cara bertindak, dan bermasyarakat. Banyak yang menyepakati itu. Dan menjadi mahasiswa tidak berarti melupakan bahwa sebelum bergelar mahasiswa bahkan hingga kapan pun, mahasiswa tetaplah manusia, dan manusia tetaplah manusia. Ketidakmengertianku muncul ketika kujumpai kawan-kawan sesama mahasiswa seakan-akan lupa dengan perangai manusianya. Lupa dengan amanah dan segala keistimewaan yang disematkan padanya. Lupa bahwa manusia itu merdeka. Lupa bahwa pemahaman seorang mahasiswa tentang kemerdekaan setiap manusia di atas apa-apa yang sedang mereka perjuangkan. Terlebih lagi, lupa akan keberadaan hati untuk merasa ada di atas intelektualitas manusia. Ketidakmengertianku terus muncul ketika yang ada pada benak kawan-kawan mahasiswa justru nafsu untuk membenci, menyingkirkan, menguasai, dan melukai. Monyet pun seperti itu ketika merasa lapar dan terancam. Lalu apakah yang sejatinya menjadi pembeda antara keduanya?
             
Yang lebih membuatku tak kunjung paham dengan apa yang kawan-kawan lakukan adalah, mengapa begitu mudah untuk menebar rasa benci dan curiga. Mengapa begitu sulit bagi kawan-kawan untuk mengakui keberadaan sesama mahasiswa, berbagi ruang untuk bersaing secara sehat, dan tentunya tetap sebagai manusia yang sama-sama merdeka. Bahkan ada yang menimbulkan pertanyaan lebih besar, mengapa kawan-kawan melarang keras sesama mahasiswa untuk menerima selebaran atau sesuatu apa pun bentuknya? Apakah kawan-kawan bisa menjamin apa yang akan mereka terima memang berbahaya? Bukankah kita semua sama-sama bisa berpikir yang mana yang baik dan yang buruk untuk diri kita? Dan yang paling sulit kupahami adalah mengapa buletin dari kawan-kawan pers pun sampai tidak ada yang berani menerima? Sebuah tanda tanya besar yang harusnya ada pada benak kawan-kawan mahasiswa, ketika tak ingin kemerdekaannya terlukai mengapa justru melukai? Terpikir gurauan dari seorang teman, apakah apabila selembar kertas yang bertuliskan “voucher makan” pun tidak akan diterima? Kalau sampai tidak diterima, bukankah sudah dikatakan pembodohan masal? Dan keyakinanku memang tidak akan diterima.
             
Bukankah kawan-kawan sendiri juga merasa bangga dengan gelar mahasiswa yang kawan-kawan emban selama ini? Lalu mengapa kalian justru menginjak dan merendahkan diri kalian sendiri sebagai manusia? Kalau kawan-kawan merasa bahwa menjadi mahasiswa masih harus dilarang-larang dan harus menurut tanpa sedikitpun ada perlawanan, masih kah kawan-kawan pantas disebut manusia? Apalagi mahasiswa? Bukankah menghentikan kebebasan berpikir dan kebebasan bertindak merupakan suatu bentuk kejahatan? Pelecehan nilai kemanusiaan? Pertanyaan-pertanyan itu sudah seharusnya menjadi keresahan yang harus kita selesaikan bersama.
                 
               

                

Comments

Popular Posts