Mimpi Seorang Bocah Segara Kidul





Disini sambil duduk aku menerka, berbagai wujud yang terlihat kelabu di arah selatan
Kucoba tulikan hati ini dari jeritan ombak yang minta lepas tak ingin pecah sebelum ia datang menjemput resah
Namun sepertinya hanya usaha sia -sia
Jerit ombak berlomba datang dengan merangkak tuk hapuskan jejak yang telah lama berbekas pada detik detik kelam, meski dengan suara keras dan juga parau, aku pun tak mendengar. 
Atau memang telinga hitam ini hanya pantas dengar riuhnya ombak segara kidul?
dan bukan nyanyian-nyanyian masa depan serta panggilan buku-buku di perpustakaan?
Mereka apalagi, bukan tak mendengar, memang tak ada sedikitpun rasa ingin, kan?

Aku berdiri di atas pasir yang membuka tangannya untuk menghidupiku dengan asin ikan tangkapan kemarin. Yang tentu saja baru digarami dan di jemur ibuku tadi malam
dan mandi minum dengan payau yang lebih terasa asin, entah bekas ikan kering yang terselilit di gigi kuningku ini, atau memang tak ada lidahku menerima rasa tawar lagi
Barangkali dagingku kujamin jauh lebih keras dari daging yang kau simpan dalam kulkas, hidup di dekat 'pesugihing dunyo' memang harus kerja keras dan merasakan panas dan batu-batu cadas

Pasir segara kidul terpaksa merelakan putihnya ternoda oleh desakan jaman yang ganas segera akan membunuhku barangkali juga sanak saudaraku yang tak tahu menahu soal sihir kantong yang bolong dan omong-omong kosong
Dan aku juga harus segera merelakan angan-angan untuk menemuimu kekasih, yang menungguku sambil memintal jemu.
Sumpahku, kusampaikan pada Gusti di setiap jagonganku yang tak pernah ditemani kopi barang sesekali
Sumpahku untuk membangunkanmu rumah yang tak sekedar tempat singgah, semoga Gusti menjaga batu bata yang berhasil kubeli lewat mimpi , yang kubeli dengan sisa uang nguli pada proyek wisata bahari, dan tentu saja sudah kukurangi dengan uang makan ibuk dan kesembilan adik-adikku .

Andai saja mataku ini bisa ikut alur jual beli, barang kali rumah untukmu, Dik, sudah terbeli dengan bonus taman yang luasnya bisa kita tanami mimpi-mimpi 
Mataku ini mahal, kalau dengar dari istilah 'wong kutha' , modernisasi bisa ciptakan lagi 
alat seperti DVD yang bisa memutar kembali film yang terekam di mataku ini.

Tapi Dik, Gusti maha adil
Jemu yang kau pintal selama ini, aku yakin akan jadi tenunan termahal 
Jemu yang kau pintal demi menungguku, akan tiba pada ujung mesin pertemuan denganku. Di segara kidul ataupun di segara madu ing suarga

- Pantai Klayar, Kabupaten Pacitan. 1 Agustus 2014.

Comments

Bahrur Rozzi said…
Wiihhh Klayar...kemarin gk kesana

Popular Posts