Jompa-Jampi
Jompa-jampi, jompa-jampi
Dulu, kata ibuk aku terlahir nyaris di jaman susah
Manis susu kalengku, bagi dompet ibuk rasa air bah
Bapakpun bercerita, untung saja bapakmu ini nikah muda
Barangkali tiga tahun tertunda,
bakal dirayakan gegap air mata krisis nusantara.
Sekian tahun bermetafora, banyak huru hara
Hingga tawa dan mantera bunyinya terdengar sama saja
Jompa-jampi, jompa-jampi
Manteraku tak akan bisa
berhenti
Tumpukan kaleng susu saat itu, mengantarku pada angka satu
dan tujuh
Bukan lagi waktu untuk belajar memasang kancing baju
Apalagi saat untuk mengubah-ubah arah kiblat
Satu dan tujuh, telah terbai’at untuk bebas berbuat bahkan
menghujat
Jompa-jampi, jompa-jampi
Telingaku gatal mendengar nurani terpental-pental
Sempat dengar dari tetangga sebelah, urus SIM makin susah.
Banyak polisi yang kurang gaji, untuk bayar ongkos anaknya
sekolah akademi
Sempat dengar pula dari gedung dewan terhormat yang megah
Pendidikan makin tak terarah, kurikulum sering ganti baju
tanpa mandi dan gosok gigi.
Ramai pula di televisi, tersingkap wajah babi di balik topeng
dewa dewi
Lebih sulit lagi membeda antara ikrar pemimpin negeri dengan
syair puisi.
Indahnya janji tanpa isi, hanya langkah penuh strategi dan alibi.
Jompa-jampi, jompa-jampi
Terdengar lagi mantera nusantara lama.
Meski telah usai masa perbudakan koloni dan gemerlap raja-raja,
bikin semakin banyak premis yang tak bisa kupercaya
Kebenaran sudah membelah diri layaknya protozoa, dan kejujuran
seharga tas kulit kawe dua
Jadi tak ada beda, antara bangsat dan pejabat
Tak ada beda antara penipu dan guru
Tak ada beda antara penjahat dan ustad
Tak ada beda antara mafia dan tentara
Tak ada beda antara pembual dan pengacara handal
Tak ada beda antara penjagal dan dokter profesional
Yang nyata beda hanya si miskin dan si kaya,
si babu dan tuannya.
Jompa-jampi, jompa-jampi
Jompa-jampi, jompa-jampi
Bungkam atau teriak lantang, sama seperti hidup esok atau
mati sekarang
Jompa-jampi, jompa-jampi
Pada akhir manteraku, aku akan memilih mati dari pada harus
melawan hati nuraniku sendiri.
Saat imun berperang lawan virus resah, hanya
ini antibiotik paling murah yang mampu terbeli.

Comments
tapi bahasanya bagus banget :D
junitapristi.blogspot.com