Mana yang disebut Kejujuran?

 
 
"Ada yang berubah, kita yang melangkah dari ketidaktahuan, memilih dan memasuki celah kemungkinan-kemungkinan."


Setidaknya saat ini aku bisa menemukan satu celah, yang sebelumnya sangat sulit aku temukan. Aku akui, sampai saat ini masih terasa sangat sulit untuk menemukan celah itu. Bukan menemukan, lebih tepatnya memilih. karena sebenarnya celah itu nyata ada. Banyak sekali celah, tapi ternyata untuk memilih celah itu aku terlalu takut untuk keluar dari "aku". Ya, karena pada dasarnya "aku" pun belum lama kumasuki. Mengapa aku sebut celah? Bukan gang, bukan jalan, bukan pintu, atau apapun? 
Mungkin setelah aku bertemu seseorang, aku harus bisa menjelaskan banyak hal yang sebenarnya tak perlu dan tak ingin dengan gamblang aku jelaskan. Pada akhirnya aku menyerah dan mendadak mengaku sadar, bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang berfikir, pemilik rasionalitas. Cogito ergo sum, aku berfikir maka aku ada. Tapi saya lebih sadar bahwa, manusia juga punya hati untuk merasa. Hanya berfikir tak dirasa, jahatlah ia. Hanya merasa tak berfikir, goyahlah ia.

Mengapa celah? Aku memandang celah sebagai sebuah ruang yang memiliki batasan-batasan, entah itu tembok, kayu, atau apun itu yang bisa menjadi pembatas. Kita tak bisa sekedar melihat, tak akan ketemu ketika kita hanya tak sengaja lewat tanpa ada niat untuk mendekat. Bukan ruang yang luas, cenderung sempit, bahkan kalau perlu kita harus mengintip untuk menuntaskan rasa penasaran kita. Dan menurutku, pada sebuah celah, tak akan ada lagi yang kita sebut sebuah kebetulan, semua yang kita lakukan, kita lakukan dengan penuh kesadaran. Dan segala alat sensori aktif untuk mengenali situasi dan kondisi.

Dulu, mungkin kalian mengenalku sebagai sosok seseorang yang pintar, memiliki tujan yang jelas, seseorang yang baik, kuat, pantang menyerah, punya semangat hidup yang tinggi, tak punya banyak masalah, dan mungkin penilaian-penilaian lain yang kalian sematkan padaku. Apa yang akan terjadi jika ternyata aku bukanlah "aku" yang kalian kenal? bukan aku yang setiap hari hadir dihadapan kalian?
Cukup lama aku menyadari ini semua.Bahkan bisa dikatakan sangat lama. Ternyata "aku" yang kalian kenal merupakan lapisan-lapisan topeng penyesuaian atau adaptasiku terhadap apa yang kuhadapi di depanku saat ini. Ketakutan-ketakutan yang terus kusembunyikan tak pernah kuungkapkan, menunda pengakuan- pengakuan, menumpuk pesakitan-pesakitan, dan memendam hasrat dalam-dalam. Selama ini aku tak mau mengakui, sehingga aku tak segera sadar, dan akhirnya aku sulit memegang erat kendali diriku sendiri. Pernah merasakan seperti ini? 
Untuk apa sebenarnya kita hidup? Menanti sebuah kepastian, jaminan, kemapanan, bahkan kebahagiaan? Sedangkan aku saja belum tuntas dengan "aku". Ibuku pernah berkata kepadaku sebelum aku berangkat kuliah, "Apa yang Mbak Ama cari saat ini? Apa yang mbak ama dapat dengan hanya urusan duniawi?" 
Pertanyaan itu seperti anak panah runcing dengan kecepatan tinggi tertancap tepat pada jantungku, yang membuat sekejap membuat darahku beberapa detik terasa berhenti. Membuatku lemas seketika.

Ternyata sampai saat ini aku belum bisa membela diri atas hal yang kulakukan dan kuakui benar di depan Ibuku. Bayangkan, seorang ibu. Yang konon sosok yang paling dekat dengan buah hatinya, ada ikatan-ikatan batin yang secara tak sadar antara ibu dan anaknya. Aku sadar, selama ini aku banyak diam, menyimpan segalanya sendiri, terlalu egois, sampai tak kuijinkan ibuku mengenal "aku". Tapi maaf ibu, aku pun masih sampai tahap mengenal "aku". Segera aku akan berkenalan denganmu ibu, lebih baik terlambat daripada tidak samasekali.

Sebenarnya sejak kapan konsep "aku" ini ada? Mengapa kukatakan konsep? Karena manusia adalah makhluk yang cenderung membentuk konsep-konsep dalam keseharian, mengkelompok-kelompokkan beberapa hal yang memiliki kesamaan-kesamaan, kemudian mengeneralisasikan sesuatu, menilai, dan bahkan menghakimi. Dan alasan yang paling penting adalah, karena manusia melakukan semua hal itu hanya mengutamakan dari apa yang mereka lihat.
Dan aku yakin, manusia tidak akan bisa lepas dari hal-hal demikian. Bahkan aku akui, akupun pernah seperti itu. Harusnya ketika kita sadar bahwa apa yang kita lakukan tidak sekonyong-konyong kita lakukan berdasarkan hal-hal yang tampak saja. Ada beberapa hal yang jika dilogiskan dan dikonsepkan justru akan keluar dari hakikatnya, dan meskipun melogiskan serta merta tidak kita lakukan begitu saja. Aku memahami bahwa untuk mencapai hal-hal yang lebih baik tidak dilogiskan memang dengan melogiskan hal itu terlebih dahulu. Itulah yang dilakukan manusia untuk mengetahui baik tidaknya atau benar salahnya sesuatu. Dengan melakukan kesalahan, bukan serta merta kita langsung bertemu dengan kebenaran. Paling tidak kita sadar, dan tidak akan mengulangi kesalahan itu, meskipun kebenararan tidak sejatinya disebut benar. Paling tidak kita tahu apa yang kita lakukan salah, dan akhirnya mencari celah-celah yang lain.

Aku tertarik dengan analisis-analisis Freud tentang sebuah konsepsi "jiwa" manusia. Freud mengatakan bahwa sesuatu yang dilakukan manusia tidak sepenuhnya dilakukan berdasarkan hal-hal yang disadarinya. Tidak semua yang manusia katakan merupakan buah dari kenyataan-kenyataan yang nampak. Justru bagi Freud yang berpengaruh besar dalam proses melakukan sesuatu oleh manusia, lebih besar dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Seperti konsep konfliknya, bahwa "konflik adalah peristiwa bawah sadar di samping peristiwa sadar." Dari kalimat tersebut, peristiwa bawah sadar dijadikan subjek utama, yang meletakkan besarnya andil peristiwa sadar berada di bawah peristiwa bawah sadar. 

Lebih jauh lagi jika kita membahas konsep yang terkenal dari Freud, tiga bagian dalam pribadi manusia, yaitu id, ego, dan superego. Dari konsep tersebut aku mebanyangkan sebuah pendulum yang selalu bergerak mencapai kestabilan. Pendulum yang bergerak dari ekstrim kanan ke ekstrim kiri, dan selalu melewati titik keseimbangan, yaitu di tengah-tengah. Aku ibaratkan ekstrim kanan adalah id, ekstrim kiri adalah superego, dan titik keseimbangan adalah ego dari manusia. Id berasal dari "it" yang berarti dorongan hewani, atau bisa disebut sebagai keinginan, kebutuhan, naluri, atau dorongan-dorongan fisiologis lainnya untuk bertindak. (Ray P. Cuzzort, 1985) Jadi, manusia memiliki id, yang selalu mendorong manusia untuk memenuhi keinginan, kebutuhan, dan hasrat-hasrat individu yang datang, dan pada dasarnya manusia tidak bisa lepas dari keinginan-keinginan hewani seperti serakah, liar, hasrat sexual, dan hal-hal lainnya. Manusia juga memiliki superego, superego terdiri dari patokan-patokan etika dan moral dari masyarakat. Superego adalah yang biasa kita sebut hati nurani (Ray P. Cuzzort, 1985) Superego inilah yang menjadi penekan sebelum manusia melakukan suatu tindakan. Superego inilah yang bisa disebut kontrol sosial, dan menyebabkan manusia keluar dari hakikat kemanusiaannya. Di sini muncul istilah manusia adalah makhluk "judgmental", selalu dinilai dan memberikan penilaian. Sedangkan ego, merupakan bagian diri kita yang langsung mengalami realitas dan memanunggalkan tuntutan-tuntutan superego dan id yang saling berlawanan. Egolah yang menjadi penghubung, jembatan, antara id dan superego, sehingga manusia dapat bertingkah laku seimbanga. Sulit, ya memang aku akui itu sulit.
hahaha, mendadak aku jadi sok teoristis....

Maka dari itu aku ibaratkan tiga bagian tadi seperti pendulum, karena pendulum akan jadi pendulum kalau ia bergerak, dan dengan bergerak keseimbangan akan sangat sulit untuk dicapai. Keseimbangan tercapai dalam keadaan yang hampir diam, tidak berarti diam. Karena dikatakan seimbangan jika telah melewati ekstrim kiri dan ekstrim kanan kemudian berangsur-angsur simpangan pendulum mengecil dan sampai pada keadaan seimbang. 

Ya, aku hanya ingin kita sama-sama sadar bahwa dualitas dalam hidup memang nyata ada. Dan banyak manusia dibingungkan olehnya, termasuk aku. 
Seseorang yang sama selalu mengulang-ulang kalimat ini "aku cuma pingin kamu jujur". Terlalu lama aku berbohong pada diriku sendiri, terlalu lama aku tidak menyapa sisi id ku, aku selalu ingin menghindar dan menghilang, selalu mengutamakan superego. Halah, balik teori lagi -__-
Gini-gini, terlalu lama aku tidak menghiraukan "aku" yang ternyata sejak lama berteriak-teriak minta diperhatikan, mungkin dia lelah menahan rasa sakit yang kubuat-buat sendiri. Terkekang pada celah yang batas-batasnya kuada-adakan sendiri. Hingga muncul kata penderitaan, yang kembali lagi penderitaan itu aku buat-buat sendiri. 
Sejujurnya aku merindukan hidup yang aku ada karena inilah aku, bukan aku ada karena kata orang aku begini dan aku begitu. Hidup cuma sekali, masa mau terus menderita? Hidup tidak serumit pikiran kita tentang "apa kata orang nanti", Hidup adalah aku yang sekarang ini, entah orang berkata apa. Toh, benar dan salah bisa kita bicarakan baik-baik, duduk dan bicara, jangan hanya melihat kemudian menghujat.

Lalu muncul pertanyaan, "Mana yang bisa kita sebut kejujuran?" 
Jujurlah pada dirimu sendiri, akui meski itu sakit, katakan meski itu memalukan, ungkapkan meski tak mengenakkan, kemudian sadari kalau memang itu sakit, memalukan, dan tidak enak. Dengan seperti itu kita tahu harus berbuat apa selanjutnya. Karena diri sudah dalam kendali. Sampai kapan kita bias akan kejujuran?

Karena tidak masuk akal adalah masuk akal :)




Comments

Popular Posts