Wahai Asap Jisamsu, Gunjing Saja Negerimu!
Tubuh lekat di atas kursi sebuah warung kopi, tempat segala
ide tegak menjulang tinggi, bertarung dengan asap rokok yang liar
kesana-kemari. Secangkir coklat panas, bukan lagi kopi ikut merayakan kerapuhan,
menyaksikan indahnya tarian asap yang semakin liar mondar-mandir tak segera
pergi. Mungkin ingin mencaci pikiran ini yang berancang-ancang akan menari,
berlari, pergi, tidak kembali. Bernyanyi tentang sebuah arti yang tak pernah
kutemui sampai kini.
Di meja itu, asbak penuh tak lagi bisa diisi. Habis samsu
pada jari, sampai toko tutup tak bisa lagi beli. Tetap saja tak berhenti, terus
menggunjing sebuah negeri sampai pagi. Aaaahh nikmat sekali.
Kau mau ikut? Kemarilah… Jangan pura-pura buang muka tak
berdosamu itu. Duduk, dan nikmati, secangkir coklat panas atau kopi? Atau mau
yang gratis di sini? Asap rokok jisamsu yang beratraksi. Nikmati, jangan
terburu-buru pergi kalau kau tak suka menggunjing negerimu sendiri. Atau tak
suka dirimu digunjing di sini?
Dua, tiga, lima, penuhlah meja, dan bertambah meja lainnya.
Jam berlari mengebiri waktu tidur malammu wahai bayi. Kami akan mulai saat
semua lelap dalam gelapnya harap. Dua, tiga piring pisang coklat hangat
tersantap, tapi tanyamu masih saja tetap. Nikmati, jangan terburu-buru pergi
kalau kau tak suka menggunjing negerimu sendiri. Atau tak suka dirimu digunjing
di sini?
Mungkin kau ingin suguhan ironi untuk menahanmu tetap duduk
di kursi?
Ini, nikmati!
Di negeri ini apa saja bisa
terjadi
Untuk mendapatkan keadilan,
kalau perlu membeli
Yang hitam bisa menjadi
putih, yang putih pun begitu
Terhadap yang benar saja
sewenang wenang
Apa lagi
yang salah
Aku lupa memberitahumu, menu termahal di sini adalah ironi.
Aku juga lupa tanya padamu, apa kau bawa cukup uang kemari? Hahahah. Sepertinya
sepotong dari ini pun kau tak mampu beli. Atau kau mau membuat kesepakatan?
Antara kita saja, tak perlu tau lah yang lainnya? Yaa?
Astaga aku lupa. Kau kan pemilik taman “bunga” di seberang
sana. Aku terlalu payah untuk mengingat wajahmu wahai sobat. Atau memang kau
tak layak kuingat-ingat? Bergagi sedikit saja kau tak sempat.
Sebenarnya ini cerita lama
Tapi nyatanya sampai kini
masih sama
Banyak pengacara berjaya
karenanya
Pengangguran banyak acara,
itulah dia
Tarik
nafasmu, jangan menggerutu kalau yang ada di sini hanya asap jisamsu. Redam
amarahmu.
Tekak tekuk hukum sudah
menahun
Pengadilan bagai sarang para
penyamun
Hukum mudah dipermainkan
Pasal-pasalnya
mulur mungkret
Apa? Kau tak terima? Mau mengelak atau ngelak? Ini, minum dulu. Maaf di sini air kami bukan Aqua, air masak sendiri dari panci.
Kalau kau tak suka, yasudah untukku saja.
Sampai kapan ini berjalan
Kok semakin hari bertambah
ruwet
Kalau mau menang harus punya
uang
Yang bokek tak masuk
hitungan
Ada hakim dilempar sepatu
Itu artinya tak mau dimadu
Yang gila lagi orang gila
masuk persidangan
Punya pengacara yang juga
gila
Hakimnya
gila jaksanya gila
EMKAnya jauh lebih gila ya? Dulu sepertinya aku pernah
mendengar pujimu padanya. Benarkah? Ya mungkin ini waktumu untuk menelan air
ludahmu sendiri, bukan menelan air yang hampir aku berikan tadi. Izinkan aku
tertawa, spertinya kalau ditahan sedetik lagi saja kentutku justru juga ikut
terpingkal mendengarnya.
Jangan-jangan semuanya sudah
gila
Termasuk
dokternya termasuk saya
Saya gila! Presidenku pun jangan-jangan gila? Luar biasa! Ini
negeri apa sebenarnya? Negeri yang kaya katanya ya? Segalanya dengar-dengar
serba ada? Cuma dengar sih sebenarnya. Hahaha. Dari maling jemuran sampai
maling sapi perahan, kan memang ada di sini? Astaga, inikah ironi negerimu ini?
Negeri kita (?)
Jangan lari! Katanya
kau janji bakal bayar semua ini. Kecuali air minum rebusan panci, untuk
membayar jasa api dan panci pun kau tak sudi.
Negeriku, negeri para penipu
Terkenal, ke segala penjuru
Tentu saja bagi yang tak
tahu malu
Inilah
sorga, sorganya sorga
Ya, yang tak tahu malu macam dirimu itulah.
NEGERIKU, NGERIKU
(Lagu dari Iwan Fals: Mungkin dan Negriku)

Comments
Bermimpi bahwa anda telah tinggal di surga dunia
Wahai pemuda yang berdiam saja
Melihat negeri ini terbakar dan sesak oleh abu para penipu
Bangunlah wahai pemuda
Negeri butuh anda
Benar-benar butuh..
Anda
Bagus, bagus huehehehe *menghilang*