Bara Berani Berkicau Bisu

Aku bicara tentang bara. Tak sempat ada api, tak sempat pula terang tergenapi. Bukan bara yang itu, tapi bara yang ini. Bara yang itu dan bara yang ini berbeda, kau mengerti? Apa di matamu masih terlihat sama, bara yang itu dan bara yang ini? Yasudah, anggap saja berbeda kalau memang kamu tetap bilang bara yang itu sama dengan bara yang ini. Memang hanya aku yang tahu bahwa bara yang itu dan bara yang ini berbeda. Sampai titik terakhir tulisan ini, aku tak yakin akan membuatmu mengerti apa beda dari bara yang itu dan bara yang ini. Mengertilah.
 
Aku bicara tentang bara. Di setiap tempat punya bara yang berbeda. Tergantung angin dari yang punya dan Sang Empunya. Bukan mustahil baramu jauh lebih hidup dari pada baraku. Bukan mustahil pula baraku lebih hidup dari pada baramu. Mengertilah. Bara memang tak bisa sama, atau dipaksa untuk sama. Memang bara itu apa? Ha? 

Aku bicara tentang bara. Bukan yang lainnya. Jadi, tak perlulah kamu bayangkan apa-apa yang bukan bara. Hanya bara saja, bukan yang lainnya. Tak perlulah kamu menggeser makna bara yang sesungguhnya dengan makna bara yang mengganda. Aku bilang apa? Hanya bara, bukan yang lainnya. Di sini aku mengerti kamu tak akan mengerti. Itulah mengapa aku menuliskan ini, mamang bukan hanya untuk kamu yang tidak mengerti. Tapi untuk siapa saja yang telah, atau akan mengerti tentang bara yang ini, bukan bara yang itu, atau bara yang lainnya.

Aku bicara tentang bara. Tak sempat ada api, tak sempat pula terang tergenapi. Kalau bara ini terus diperdebatkan, aku yakin aku atau kamu bisa jadi gila sementara. Atau dua-duanya gila sementara? Atau gila saja? Urus saja baramu yang itu, toh aku juga tetap urus baraku yang ini. Lain kali baraku dan baramu coba kita pertemukan. Barangkali ternyata memang sama? Hahahaha. Atau memang berbeda? Hahahaha, aku bilang apa.
Sepertinya kamu bosan kalau aku bicara tentang bara. Aku bilang apa? Tulisan bara ini bukan untukmu, masih saja kau teruskan membaca. Lalu ini siapa yang gila? Aku atau kamu? Atau kita sama sama gila?

Ya, ganti. Aku sekarang bicara tentang berani. Jangan berani membaca lagi kalau kamu memang tidak benar-benar berani. Karena apa yang kamu baca bisa saja jadi elegi. Bahkan mimpi yang akan terus kau ratapi, disini atau dimanapun kau suatu saat nanti berdiri.

Yakin berani?

Kalau tidak, silahkan pergi dan jangan baca ini lagi. Pergi!

Oke, rupanya kamu masih berani ya?

Yasudah, baca saja, jangan berkomentar. Jangan sedikitpun mengernyitkan dahi, atau bahkan meludahi tulisan ini. Katanya kamu berani?

Baca dan renungi!

Aku berani minum secangkir kopi yang kamu beri. Bukan berarti aku tak tahu kalau kamu telah mencampurkan racun di cangkir kopi yang kamu buat untukku tadi pagi. Aku percaya, jika hidupku masih berguna, racun mematikan yang kamu berikan pun tidak akan sanggup membuat ajalku mengemis, memaksa ruhku untuk angkat kaki. Mungkin saja negosiasi antara malaikat ajalku dan Tuhanku menghasilkan harga tinggi dari ruh seorang pemberani, dan memilih racun yang berharga miring dari cangkir kopi untukku yang dibawa ke surga atau neraka. Entah yang mana yang nyata, aku tak mengerti juga bagaimana. 

Berani bukan hanya soal negosiasi harga diri. Tapi jika memang harga dirimu layak untuk dinego, bukan dayaku lagi yang bisa membuatmu berhenti mengatakan “Aku berani”. Karena berani juga bukan soal ketakutan yang sengaja kamu atau aku ingkari. Berani itu mutlak soal jati diri. Atau hati yang memilih untuk berani. Kalau masalah hati, tulisan ini cukup sampai di sini.

Hem…bukankah jati diri pun masih terus kita cari? Hahaha, jangan lagi bicara soal berani kalau kita belum tuntas soal jati diri dan hati. Yasudah, aku hentikan pembicaraan soal ini. Karena ternyata aku pun belum berani. Hiii! Ngeri!

Kalau sudah begini, alasan apa yang jadi budak untuk berkicau di pagi hari sampai pagi hari yang lain lagi? Berkicau barangkali bisa jadi alibi yang ternyata untuk mensiasati hidup yang sungguh ngeri! Berkicau barangkali jadi obat masuk angin yang sampai menggerogoti hati! Sungguh, ternyata kicauku pun kamu permasalahkan lagi. Padahal jelas-jelas kamu tau, aku berkicau hanya untuk menarikmu untuk melakukan kicauan yang sama bukan kicauan yang meronta. Bukan kicauan-kicauan yang dilombakan dalam sayembara untuk mendapatkan Putri Mahkota Raja yang pernah kamu ikuti, dan membuatmu sakit hati di atas negerimu sendiri. Di sini aku hanya membuatmu tersedak di tengah-tengah kicauanmu yang merdu itu, setidaknya agar kamu mendengar sungguh-sungguh kicauanmu walau sebentar dan samar-samar. Untuk selanjutnya kamu lanjutkan atau kamu hentikan itu masalah pilihan, anggap saja kamu rajanya dan aku hanya kerikil yang tak sengaja terhantam pada mukamu yang mulus itu. 

Di akhir sebelum matamu sampai di titik terakhir, kamu menanyakan “Apa hubungan dari bara, berani, dan berkicau?”. Maafkan, aku hanya bisa menjawab dengan BISU.

Comments

Popular Posts