Edukasi? Penting?



Ingat dengan kalimat “Lingkaran setan” yang sering menjadi kambing hitam ketika pertanyaan mendasar mengenai masa depan negeri kita muncul? Apapun pertanyaan yang menjurus tentang bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan yang kian kompleks di negeri kita ini, pada akhirnya kalimat “Lingkaran setan” lah yang dikambing hitamkan. Negeri kita ini memang sedang berada dalam dilematika luar biasa pada upayanya untuk berkembang. Juga tidak bisa dipungkiri lagi, banyak sekali aspek yang harus diselamatkan dan direparasi. Tetapi dengan asumsi lingkaran setan ini, tanpa kita sadari kita merasa nyaman hanya dengan jalan di tempat, bahkan cenderung berjalan mundur.
            Apabila memperhatikan secara mendasar dan menyeluruh tentang problematika yang ada, sebenarnya SDM lah yang menjadi pokok permasalahan, dan pendidikan tidak akan bisa lepas dalam mempengaruhi SDM yang dimiliki negeri ini. Pendidikan? Sistem pendidikan lebih tepatnya. Sering kali membuat gatal telinga ketika harus mendengar sistem pendidikan di negeri kita ini sering berganti baju dan memakai parfum tapi tidak pernah gosok gigi apalagi mandi. Menggelikan sekali. Kita analogikan manusia, jika kita sering berganti baju ditambah lagi rajin memakai parfum,  memang akan terlihat lebih rapi, nyaman dilihat, tidak kusut, dan wangi tentunya. Tetapi apabila tidak pernah gosok gigi bahkan mandi, bayangkan saja banyaknya kuman dan bakteri yang akan bersarang pada tubuh kita. Kuman bakteri yang tak kasat mata tersebut terus berkembang dan tidak lama akan menyebabkan penyakit apabila tidak segera dibersihkan. Apakah negeri kita ini sudah gosok gigi dan mandi? Atau malah sudah sakit parah?
            Seringnya sistem pendidikan di negeri ini untuk berganti baju diklaim untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Tetapi pada praktiknya, seringkali justru memperlihatkan langkah kemunduran yang signifikan. Dalam survey yang dilakukan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Studies) dan PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), bahwa anak-anak Indonesia masih memiliki kemampuan membaca yang rendah. Indonesia mendapatkan lingkarang hitam untuk indikator reading for improvement reading, reading for literacy experience, reading for acquiring information, and reading for enjoyment. Hal ini dikarenakan Indonesia tidak memiliki kurikulum membaca dan tidak memiliki tenaga guru membaca.
            Anak-anak Indonesia memiliki kecenderungan untuk menghafal apa yang ia baca, dan bukan memahami. Kebiasaan itu timbul bukan dari dasar kemauan anak, melainkan datang dari tuntutan ketika setelah sekian lama ia belajar dan membaca, pada akhirnya hanya dihadapkan pada soal yang telah tersedia dengan empat sampai lima pilihan jawaban. Apakah itu salah siswa? Atau salah guru? Kalau bukan, lalu salah siapa? TIMSS juga telah menyebutkan bahwa memang anak-anak di Indonesia memperlihatkan kecenderungan lemah dalam kognitif-mengolah informasi , namun di satu sisi kuat pada domain kognitif-mengingat. Lalu apa yang harus dilakukan? Permasalahan tidak akan terpecahkan dan solusi tidak akan ditemukan apabila hanya dengan mengingat-ingat bukan? Memecahkan masalah dan menemukan solusi dapat dilakukan dengan pendalaman unsur kognisi dalam pendidikan. Bukan hanya itu, tetapi yang lebih penting adalah, memunculkan kemudian meningkatkan kecakapan kalkulasi kognisi yang dimiliki oleh anak. Bukan hanya sekedar mengetahui detail permasalahan, tetapi juga mampu mengolah permasalahan tersebut dan dapat menemukan solusi masalah yang tepat. Bukan menyelesaikan masalah dengan masalah.
            Untuk memunculkan dan meningkatkan kecakapan kalkulasi kognitif tersebut, siswa jelas tidak bisa hanya berjalan sendiri. Butuh guru yang mempu membimbing dan mengarahkan dengan benar. Tetapi apakah kualitas guru di Indonesia telah benar-benar teruji? Prof. Satryo Soemanti Brodjonegoro, Guru Besar ITB mengatakan bahwa, kualitas guru di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Padahal guru adalah eksekutor pertama di dalam kelas. Lalu apakah harus mengganti total para guru di Indonesia? Jelas ini merupakan langkah yang sulit. Memang tidak mudah memperbaiki pendidikan kita sekarang ini. Dibutuhkan keberanian langkah untuk menanggalkan status PNS pada guru. Agar pendidikan di Indonesia tidak lagi dipolitisasi menggunakan kebijakan-kebijakan yang kurang masuk akal dan kurang bermutu. Selain itu, faktor internal dari siswa dan guru juga sangat penting. Dorongan passion serta antusiasme pada siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar seharusnya menjadi perhatian pertama dan utama. Perlu digaris bawahi khususnya untuk para guru, kegiatan belajar mengajar bukanlah dilandaskan pada semata-mata motif ekonomi, agar semua elemen dapat bersinergi untuk menjadi “Transformer generasi penerus bangsa.”
            Dan ketika guru dan siswa telah bersinergi untuk menjadi transformer penerus bangsa, penerapan kurikulum yang tepat menjadi faktor terpenting. Rocky Gerung, dosen mata kuliah filsafat Universitas Indonesia mengatakan bahwa, kurikulum adalah DNA kebudayaan yang fungsinya direplikasikan untuk memahami masa yang akan datang. Rocky menyatakan bahwa masa depan Indonesia mengacu pada empat indikator. 1.) Speed-ism; segala sesuatunya menuntut kecepatan 2.) High finance capitalism; transaksi ekonomi yang foot loose 3.) Bioethics; konflik moral 4.) Space teknologi. Pertanyaannya adalah, apakah dalam merumuskan kurikulum orang-orang kepercayaan rakyat memiliki rumusan masa depan yang minimal atau paling tidak, serupa dengan yang dikatakan di atas?
            Rocky juga mengisahkan sebuah cerita dari Procrustex yang telah menciptakan kurikulum social pada rakyatnya. Ia mengundang makan rakyat-rakyatya, diberikan makan sampai kenyang. Kemudian rakyatnya dipersilahkan tidur di kasur mewah miliknya. Kemudian ia menyamakan panjang kaki-kaki rakyatnya dengan kasurnya. Kaki yang terlalu pendek, ditarik agar otot-ototnya memanjang, sedangkan kaki yang terlalu panjang dipotong. Renungkan sebuah kemirisan ini. Kurikulum dibuat bukan untuk menyesuaikan dengan kehendak sang pembuat kebijakan kurikulum. Kurikulum dibuat untuk diaplikasikan pada siswa-siswi yang sedang dalam proses pembelajaran, untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Jadi, apakah solusinya hanya menambahkan apa yang belum ada dan memotong apa yang dianggap tidak dibutuhkan atau diluar batasan? Yang jelas tidak semudah itu. 

Comments

Anonymous said…
"Rocky juga mengisahkan sebuah cerita dari Procrustex yang telah menciptakan kurikulum social pada rakyatnya. Ia mengundang makan rakyat-rakyatya, diberikan makan sampai kenyang. Kemudian rakyatnya dipersilahkan tidur di kasur mewah miliknya. Kemudian ia menyamakan panjang kaki-kaki rakyatnya dengan kasurnya. Kaki yang terlalu pendek, ditarik agar otot-ototnya memanjang, sedangkan kaki yang terlalu panjang dipotong."

cerita itu bener yak ? kalo bener serem amat.

Memang miris kalo melihat secara jeli masalah pendidikan di negri kita ini. Banyaknya sekolah di suatu daerah tertentu tidak sebanding dengan minat para terdidik dan pendidik untuk memajukan ilmu, sementara mahalnya biaya pendidikan tidak sebanding dengan kualitas dari ilmu yang dikembangkan.

Tidak heran jika ada yang bilang bahwa pendidikan itu bisa "dibeli." kenyataannya memang begitu. Ada suatu daerah di Jawa Timur yang dapat menjual ijazah SMA bagi anak yang merasa nilainya kurang atau bahkan tidak lulus. hanya dengan modal kurang dari 20 jutaan.
Beliau dosen filsafat UI kak, memang benar mengerikan
apalagi sekarang manusia sudah seperti produk robot perusahaan
ya ayolah kita perbaiki dari diri sendiri dan lingkungan kita :)

Popular Posts