Belantara
Menempuh jarak belantara dan puncak dunia.
Daun kering itu sepertinya belum lama tanggal dari rantingnya yang setia. Hadiah dari fase setelah tumbuh - pergi - mati. Daun yang katanya tidak pernah membenci angin, daun yang katanya tidak pernah terlibat perseteruan hebat di kaki langit. Daun yang hanya bisa pasrah : memproses segala energi, meranggas, mati, dan jatuh.
Mereka, para daun jatuh, tak perlulah resah dan gundah. Karena di b e l a n t a r a, hanya kaki yang tau arahlah yang berani menjamah. Daun yang jatuh tak perlu khawatir, bekas ranting yang telah ditumbuhi sehelai daun pengganti yang baru, tersentuh dan merapuh di tangan pemilik kaki tahu arah, yang datang untuk mampir. B e l a n t a r a tempat segala macam rupa. Yang ganas pun ada dengan perut kosong nan lapar, mengincar dengan gencar.
B e l a n t a r a tak punya tulisan "SELAMAT DATANG" untuk para pecundang. Karena bagi pecundang, tulisan "SELAMAT DATANG" adalah jalan untuk segera kembali pulang sebelum melanglang.
B e l a n t a r a juga tak punya marka jalan yang senantiasa menunjukkan arah mana yang memungkinkan cepat sampai tujuan.
B e l a n t a r a sudah pasti tak menyediakan persinggahan yang nyaman, selimut tebal, bantal kapuk, kasur empuk, dan susu hangat bercampur gula yang telah diaduk dari tangan hangat seorang ibuk.
Langit hanya mampu sedikit menyumbangkan energi lewat celah antar ujung vegetasi lebat yang tak akan terbabat. Bulan pun tak nampak, hanya milik kaki yang tinggi di puncak tebing.
Di b e l a n t a r a, pasti ada fase, ketika kuncup tak jadi mekar, telur tak jadi menetas, tunas tak jadi tumbuh, dan hati yang tak jadi temukan esensi. Esensi sebuah tempat yang punya segala kakayaan yang berlipat-lipat, serta tempat yang tak pernah habis akan berkat, tempat yang melahirkan jiwa tangguh yang hebat, tidak menjamin sebuah maslahat.
Di b e l a n t a r a, tidak pernah ada kata tersesat walau tak sadar sering kali berputar pada satu tempat. Karena, tujuan memang selalu mengajak untuk saling berdebat. Di b e l a n t a r a tidak pernah ada kata lapar, selama mampu berkongsi dengan ribuan kumpulan hewan. Di b e l a n t a r a, bekal akan habis sia-sia jika hanya diam dan mendirikan tenda, serta api unggun menyertai tiap malamnya. Di b e l a n t a r a, perjalananlah menjadi tujuan akhirnya.
Selamat datang di B e l a n t a r a, tempat segala berkat adil tercurah. Usahalah yang tentukan waktu untuk sampai ke puncak tertinggi dunia. Yang tak layak bertahan akan mati sia-sia. Yang tangguh dan sungguh-sungguh akan temukan tempat yang indahnya mengundang gemuruh ricuh.
Selamat datang di B E L A N T A R A!!!
Pastikan kau cukup bekal dan persedian perjalanan. Pastikan kau mengerti cara memilih jalan. Pasikan kau punya cukup kemampuan, karena dalam b e l a n t a r a, komunikasi itu ada, meski tak bersuara. B e l a n t a r a punya bahasa yang luar biasa, yang tak sembarang orang dapat mengertinya.
Selamat datang di B E L A N T A R A!!!
Sendiri bukan berarti dekat dengan kata mati. Walau sendiri, sangatlah dekat kata sepi.


Comments