Surat seribu kata rindu
Jangan melulu tawamu, padahal dalamnya hati tak sanggup bendung air lukamu.
Tuhan memang pencipta segala, kau tahu. Tuhan menciptakan segalanya beserta pertentangan-pertentangan yang selalu dibuntutkan. Dalam aksara kita sebut lawan kata, itu mudahnya.
Mengertilah lebih awal jika dihadirkan pertemuan, maka apa lagi yang pasti dihadirkan oleh Tuhan? Perpisahan.
Ketidakmengertianku hanya untuk hal-hal yang tidak pernah ingin kumengerti. Ketidakpahamanku hanya untuk hal-hal yang tidak pernah ingin kupahami. Dan ketidakpastiankitau hanya untuk hal-hal yang tidak pernah ingin kitaupastikan. Ketidakmengertianku atas kepergianmu bukanlah kemauanku, hanya masalah waktu yang ingin mengajarkan pentingnya dirimu hadir dalam hidupku. Ketidakpahamanku atas rasa cemburu pada semua hal yang mengepungmu, bukan pula kemauanku. Hanya masalah rindu yang hanya tergantung dan tak mengetuk pintu untuk sekedar kata temu. Dan ketidakpastian (kali ini bukan punyaku, punya kita) walau jelas-jelas kita tak pernah menginginkah ketidakpastian, namun kita selalu terkejar kenyataan.
Jika memang menyakitkan, kita harus sama-sama ingat bahwa: Cinta surga hanya untuk pemilik pedang dan parang yang senantiasa menebas segala kemunkaran dan segala perasaan yang patut dimusnahkan. Dan cinta surga hanyalah milik dua orang yang bertautan rindu pada ridho Tuhan.
Dalam perpisahan, rindu dihadirkan untuk teman sepi. Dalam perpisahan, rindu akan ganjal jika ditepiskan. Pasti akan berontak jika ditenggelamkan. Akan membakar habis tangan yang memusnahkan.
Dalam perpisahan, akan ada yang selalu menunggu, barang kali ada yang kembali dan menetap lebih lama lagi. Dalam perpisahan, menunggu akan menjadikan dirimu sebagai dermaga yang selalu memanggil kapal-kapalmu untuk singgah ataupun pulang.
Dalam perpisahan, akulah yang berdiri di tepi pantai. Kupanggil ombak untuk datang setiap hari, ombak yang kusuruh bercerita tentang kapalku yang berlayar semakin jauh, ombak yang menyampaikan surat berisikan seribu kata rindu. Dari dan untuk, kau dan aku sama-sama tahu.
Tuhan memang pencipta segala, kau tahu. Tuhan menciptakan segalanya beserta pertentangan-pertentangan yang selalu dibuntutkan. Dalam aksara kita sebut lawan kata, itu mudahnya.
Mengertilah lebih awal jika dihadirkan pertemuan, maka apa lagi yang pasti dihadirkan oleh Tuhan? Perpisahan.
Ketidakmengertianku hanya untuk hal-hal yang tidak pernah ingin kumengerti. Ketidakpahamanku hanya untuk hal-hal yang tidak pernah ingin kupahami. Dan ketidakpastiankitau hanya untuk hal-hal yang tidak pernah ingin kitaupastikan. Ketidakmengertianku atas kepergianmu bukanlah kemauanku, hanya masalah waktu yang ingin mengajarkan pentingnya dirimu hadir dalam hidupku. Ketidakpahamanku atas rasa cemburu pada semua hal yang mengepungmu, bukan pula kemauanku. Hanya masalah rindu yang hanya tergantung dan tak mengetuk pintu untuk sekedar kata temu. Dan ketidakpastian (kali ini bukan punyaku, punya kita) walau jelas-jelas kita tak pernah menginginkah ketidakpastian, namun kita selalu terkejar kenyataan.
Jika memang menyakitkan, kita harus sama-sama ingat bahwa: Cinta surga hanya untuk pemilik pedang dan parang yang senantiasa menebas segala kemunkaran dan segala perasaan yang patut dimusnahkan. Dan cinta surga hanyalah milik dua orang yang bertautan rindu pada ridho Tuhan.
Dalam perpisahan, rindu dihadirkan untuk teman sepi. Dalam perpisahan, rindu akan ganjal jika ditepiskan. Pasti akan berontak jika ditenggelamkan. Akan membakar habis tangan yang memusnahkan.
Dalam perpisahan, akan ada yang selalu menunggu, barang kali ada yang kembali dan menetap lebih lama lagi. Dalam perpisahan, menunggu akan menjadikan dirimu sebagai dermaga yang selalu memanggil kapal-kapalmu untuk singgah ataupun pulang.
Comments