Hidupku hanya pinjam restu dari-Mu

- Jika hidupku ini hanya pinjaman, kredit apa lagi yang akan kugunakan agar terus dapat kulihat senyumanmu, Tuan?
Jika hidupku ini hanya pinjaman, kemana lagi aku harus lari bersembunyi dari renternir yang mengincar tak pernah segan?
Jika hidupku ini hanya pinjaman, aku hanya akan berlari dan menghindar hanya di satu lingkaran. 
Jika hidupku ini hanya pinjaman, aku pun tak kan sungkan untuk berangan-angan, karena anganku pun tetap saja pinjaman. -

*
Aku duduk di sebuah kursi, di sebuah ruangan mungil, di sebuah rumah yang sederhana saja, dan dalam keluarga yang sederhananya istimewa. Keluarga kecil, namun tak pantas  diremehkan seperti batu kerikil. Kupandang lekat-lekat sebingkai foto yang dihiasi lima senyuman, yang tiga masih kecil. Ah, desir darahku terasa sampai pilu, kuingat dulu ketika aku masih sangat lugu. Tak kuhiraukan pilu, hanya tersisa renung yang dalamnya begitu.
Saat aku menangis keluar dari rahim ibu, mungkin tak pernah ada dalam ingatanku, hanya ku tahu dari cerita nenek kakekku, dulu. Saat aku belajar merangkak dan berjalan, aku pun masih tak ingat itu, hanya tahu dari lembar-lembar foto masa kecilku. Dan yang mulai kuingat adalah saat aku terjatuh dari sepeda yang baru saja dibawakan bapak setelah pulang kerja dari luar kota lamanya seminggu. Aku terjatuh, dan patah tulang tangan kiriku. Itulah kisah yang mulai kuingat, berawal dari sepeda baruku.
Dan aku mulai mengingat semuanya satu persatu. Wajah ibuk yang ada dalam ingatan adalah ketika ibuk memarahiku saat aku membeli permen dengan uang yang ada di meja ruang tamu, tanpa sepengetahuan ibukku. Wajah ibuk yang memarahiku ketika aku bermain tak indahkan waktu. Wajah ibuk yang memarahiku ketika sholatku tak tepat waktu. Wajah ibuk yang memarahiku saat hilang hormatku. Tapi yang paling kuingat adalah, tangis ibuk saat aku keluar masuk ruang inap rumah sakit. Tangis ibuk ketika aku mengintipnya sedang menengadahkan tangan sambil mulutnya tak berhenti bercerita. Tangis ibuk yang tanpa air mata ketika aku beranjak dewasa.
Bapakku? Pastilah kuingat lekat dalam memoriku. Sepeda yang kupakai saat jatuh, sebab dari patah tulang tanganku itu, ternyata telah kuminta satu tahun sebelum bapak membelikannya untukku. Aku masih ingat saat tangisku meminta paksa ingin bersepeda, aku masih ingat tangisku cemburu pada kawanku yang datang ke rumah pamerkan sepeda baru, aku masih ingat tanganku yang memeluk bapak setelah pulang kerja ke luar kota saat itu. Ya membawa sepeda baru untukku.
Tapi yang paling kuingat adalah, wajah dingin bapak saat kumulai kecerobohanku, wajah dingin bapak saat kuceritakan ini dan itu. Wajah dingin bapak akan prestasiku, dan wajah dingin bapak saat aku paparkan semua mimpi-mimpiku. Ya, saat pertama kali aku paparkan semua mimpi-mimpiku, hanya padanya, dan hanya wajah dinginnya yang tersisa.
"Diammu berkata-kata"
Itulah kalimat singkat untuk bapakku.

*
Aku menanti saat-saat beliau bicara, tak sekedar bicara. Ingin sekali aku memulainya, mengajaknya "bicara" untuk pertama kalinya.
Keberanianku tiba ketika mimpiku ditolaknya, bukan ditolak, lebih pada akan ditunda. Beliau bicara, bukan dengan wajah dingin yang biasanya, bukan wajah dingin yang selalu membuatku segan berbuat dan berkata-kata. Beliau bicara menjawab semuanya, kecewa yang sempat timbul hilang seketika. Yang ada, sebuah sengatan dengan tegangan besar mengaktifkan syaraf-syaraf semangatku yang saat itu mulai lesu.
Ya, aku sudah benar-benar menemukan diammu yang berkata-kata, Pak. Diammu selama ini mengajariku banyak sekali tentang apa itu dunia, dan bagaimana aku harus terus ada untuk dunia.

*

Itulah renungan di sebuah kursi, di sebuah ruangan mungil, di sebuah rumah yang sederhana, dan dalam keluarga yang sederhananya istimewa, sambil memandang lekat-lekat sebuah potret keluarga dalam bingkai sederhana.

"Hanya di bawah temaram, kau tak akan pernah bisa melihat jelas apa yang ada di sekitarmu. Yang kau lihat hanyalah sama gelapnya dan sama redupnya. Carilah sumber penerang yang membuatmu menjangkau luasnya pandang. Kemudian jadilah penerang bagi pendamba temaram. Jangan menjadi penerang yang sangat terang sehingga dapat menyilaukan, terangilah secara perlahan, sehingga mata mereka mampu menerima terangmu dengan sempurna."

Siapa bilang hidupku ini adalah sepenuhnya milikku? Atau milik ibukku? Ataupun milik bapakku? Bahkan ternyata, aku tak pernah miliki hak sama sekali atas hidupku. Tetapi aku ingat, bahwa aku hanya meminjam restu untuk hidupku. Sebagai peminjam yang baik, sebaiknya jangan pernah menyia-nyiakan restu yang dipinjamiNya dengan berlaksa. Dan jangan lupa untuk mengembalikannya tanpa cacat sedikitpun dan dalam keadaan yang sama baiknya.
Lahir dengan kesucian dan kekosongan akal pikiran, pertama kali yang terdengar hanyalah azan. Jangan pernah biarkan kau mati juga dengan kekosongan, tetapi tetaplah pertahankan kesucian. Iya, berat. Memang berat. Resiko sang peminjam.
Apalagi aku sudah dipahamkan akan aturan dalam meminjam, "Kau boleh lakukan apa saja, asal jangan kau rusak dari hakikat aslinya. Jangan kau rapuhkan apa yang sudah kukuh. Jangan kau jatuhkan apa yang sudah tegak, dan jangan kau racuni apa yang sudah menjadikannya setia dengan kesucian. Adalah iman."
Tuhanku yang meminjamkanku restu juga tahu, kalau menjaga iman bukan seperti membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan. Tuhanku yang meminjamkanku restu juga tahu, bahwa perjuangan tek selalu berjalan di jalan yang benar, terkadang dibuat tersesat agar semakin luas kupunya pandang. Bukan pandangan yang benar di antara kebenaran, tetapi pandangan yang benar di tengah lautan kesesatan.

*

Sekali lagi,
- Jika hidupku ini hanya pinjaman, kredit apa lagi yang akan kugunakan agar terus dapat kulihat senyumanmu, Tuan?
Jika hidupku ini hanya pinjaman, kemana lagi aku harus lari bersembunyi dari renternir yang mengincar tak pernah segan?
Jika hidupku ini hanya pinjaman, aku hanya akan berlari dan menghindar hanya di satu lingkaran. 
Jika hidupku ini hanya pinjaman, aku pun tak kan sungkan untuk berangan-angan, karena anganku pun tetap saja pinjaman. -

Dan akhirnya, aku berani berangan-angan di atas restu hidupku yang hanya pinjaman, berbekal kesalahan untuk temukan kebenaran di tengah-tengah lautan kesesatan.

-Saat dinginnya malam di kotaku kembali memeluk-



Comments

Alim Harun Pamungkas said…
mengapa menggunakan kata "pinjaman", "peminjam" untuk menjelasakan tentang kewenangan penuh manusia atas kehidupannya?

Popular Posts