Surat yang Tak Tersampaikan

Hai kau yang setia pada kekuatan takdir, maukah kau dengarkan aku sejenak? Tak lama, mungkin satu halaman ini pun tak sampai habis. Sudah lama ya, kau tak dengarkan cerita-ceritaku? Pun aku juga, sudah lama tak kudengar cerita-ceritamu. 
Hai kau yang masih setia pada kekuatan takdir, bagaimana hidupmu sekarang? Lebih indah bukan? Semoga memang begitu adanya, dan jangan lupa doakan aku juga begitu rupanya hidupku.
Oh ya, kau sudah katakana ingin mendengarkan ceritaku, bukan? Baiklah, aku akan bercerita perlahan, mungkin tak cukup hanya hari ini saja. Aku yakin, setelah cerita ini, kau akan terus tanyakan kelanjutan ceritaku, semoga saja begitu.
Dulu kau sering dengarkan mimpi-mimpiku, dan kau perdengarkan mimpi-mimpimu juga padaku. Jangan bosan untuk terus membaginya padaku, aku hanya ingin tahu. Lebih dari itu, ah kau pun pasti sudah tahu.
Bedanya saat ini, kau dan aku tak bisa saling tunggu untuk bertemu, jadi ceritakanlah padaku sama halnya ini kuceritakan padamu, suatu waktu aku harus kau izinkan untuk tahu. Harus.
Ah, kau sudah tak sabar ya? Terlalu banyak basa basiku.
Sebenarnya aku hanya ingin menceritakan kebahagiaanku. Bukankah berbagi kebahagiaan padamu itu perlu? Agar tawaku juga sampai pada tawamu, di manapun itu.
Aku bahagia. Kau pasti bisa tebak mengapa, Tapi bahagia ini berbeda dengan bahagiaku yang kandas setelah kerumitan takdir yang kau percayai itu. Mungkin ini yang dinamakan bahagia sesungguhnya. Jangan takut, kau tak perlu takut aku tersungkur layu atas takdir-takdir terhadapku. Yakinlah aku bisa atasi kebahagianku ini. Dulu kau sempat membenci kebahagiaanku padahal kau mencintai yang telibat pada takdirku. Tapi saat ini, cukuplah aku membalasmu dengan merasakan gahagia yang sama ya? Bahagia yang tak lagi semu, coba rasakan, rasakan meskipun ini jauh.
Aku belajar selama ini, hidup ini merupakan rangkaian sebab akibat. Kau pasti paham atas itu. Bukan tidak mungkin, kau adalah sebab hidupku, dan bisa jadi aku yang menjadi sebab hidupmu. Dan akibatnya, ini semua, semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Dan akibat-akibat itu semua, akan jadi sebab kehidupan kita yang akan datang.
Kau tahu, aku sangat bergetar ketika aku benar-benar merasakan keterpautan sebab akibat itu. Tuhan memang pembuat scenario yang tak terkalahkan, kekuatan yang kekal. Dalam setiap renungan, aku berusaha memisahkan benang-benang yang berpilin-pilin, berwarna-warni. Aku pisahkan sehingga menjadi saehelai benang yang sendiri, ya, aku pisahkan itu semua hanya dalam renungan, cukup dalam renungan. Karena, sentuhan tanganku pasti akan membuat benang-benang itu menjadi lebih rumit tak terpisahkan, biarlah tangan Tuhan yang sepenuhnya berkehendak menyentuhnya., bukan kau apalagi aku. Kita hanya cukuplah tau.
Kau pernah katakan rindu bukan? Sebesar apa ridu itu? Semahal apa ridu itu? Bisakah aku menebusnya untukmu? Biarlah waktu yang setia mengajarimu mengatakannya dengan sopan padaku, meskipun perlahan. Dan semoga waktu juga membantuku mengumpulkan dayaku untuk menebus rindu itu.
Bukankah kau pernah bilang, suatu saat kau akan temani aku jalan-jalan pada tanah yang sempat jadi mimpiku? Sekarang sudah kusimpan itu jadi harapanku, harapanku yang selalu kusampaikan pada Tuhan kita, harapanku yang selalu kusirami agar terus tumbuh besar dan subur. Agar tumbuh tinggi, dan bisa mencapai langit ketujuh, hingga jarak terdekat pada Tuhan yang mendengarkan seruan hamba-hambanya, termasuk aku dan kau. Agar tak perlu lama-lama tuhan menggubris harapanku itu, aku yakin Tuhan kita paling hebat dalam urusan mengabulkan doa-doa hambanya. Apalagi doa baik seperti itu. Semoga Tuhan tidak bosan dengar semua harapan, dan sedikit keluh kesahku. Atau kau juga ingin kumintakan?
Hai kau yang selalu percaya akan kekuatan takdir, semoga kita tak saling benci jika salah satu dari kita di caci. Semoga kita tak saling bunuh, ketika salah satu dari kita dituduh. Semoga kita saling dukung, untuk wujudkan mimpi dan harapan lebih tinggi dari gunung-gunung.
Semoga kau bisa mengenal orang yang ada di sampingku sekarang, bahagia bisa berada di sampingnya. Aku ingin kau pun juga bahagia atas ini semua.

Jika ini hanya praduga, tinggalkan ini untuk sekedar cerita, yang penting aku dan dia, beserta kau bahagia. Selamanya.

Aku yakin Tuhan mendengarkan kita semua. Kaupun yakin akan hal yang sama. Balaslah ceritaku segera, ya?

Comments

Popular Posts