Waktu

Bunyi langkah ini tak asing lagi. Kerja sinergis antar tulang, otot, dan transfer impuls per sepersekian detik, denyut tetap tertata, bertempo, berirama, bisa kurasakan setiap tarikan nafas. Darah mengalir deras, sampai tak terasa kemana arusnya tertuju dan berapa stasiun atau tempat semacam SPBU atau halte-halte dan semacamnya. Pada sistem lain, menangkap bayangan yang sontak timbul gerak refleks. Berhenti. Tepat se-centi jarak nafasku dari seseorang yang entah sejak kapan telah memasang wajah penasaran, mungkin karena heran. 
Belum puas aku menikmati kebersamaan dengan diriku sendiri yang sedang mencoba bersatu dengan udara di atas tanah. Pandangan itu sungguh mengganggu, ingin secepatnya mengucap maaf dan segera mengambil selangkah ke samping kanan dan beberapa langkah ke depan, menjauh secepatnya dan melanjutkan fantasiku.
Aku segera ambil satu langkah ke samping kanan, "what! haruskah kamu juga mengikuti langkahku?" bicara dalam hati. Aku ambil satu langkah ke samping kiri, kembali lagi,"hello, mau main kucing-kucingan nih orang" keluh yang cukup dalam hati. Tetap hening tanpa bahasa manusia.

"Perlu suit dulu kah biar nggak rebutan jalan? Jalan masih luas." ucapnya datar. 
Perlahan kepalaku terangkat, dan menatap laki-laki yang teryata tingginya cukup membuatku mundur satu langkah hanya untuk melihat wajahnya. "Berhentilah, aku yang akan melangkah pergi lebih dulu" balasku sambil kulempar senyum, karena tidak seharusnya sedingin ini.
"Saya orang ke-berapa yang hampir Anda tabrak di jalan ini? 
Aku lebih memilih mundur, dan tertarik untuk melangkah pergi, menjawab pertanyaannya dengan sunyi. Berjalan terus, mungkin setelah beberapa langkahku Ia sudah tidak lagi berada pada jalan ini. Entah ke kanan atau ke kiri, menghilang di persimpangan jalan ini. Kutoleh ke belakang untuk memastikan tak ada lagi yang mengganggu.
Di sana, ya, di sana masih berdiri laki-laki itu. Diam, kulihat matanya mengajakku berbicara. Itupun kalau mataku memang benar-benar normal melihat dengan jarak sejauh dua puluh lima meter.
Tapi mataku menolak, dan kembali berbalik meneruskah langkahku ke depan.

Baru saja aku merasakan denyutku tak bertempo dan iramanya sungguh tak beraturan. Aku bisa merasakan kemana aliran darahku saat ini. Sekarang sedang menuju ke jantung dan siap-siap dipompa ke paru-paru untuk dibersihkan. Tak ada kesinkronan antara otak dan otot pada matriks-matriks tulang. Mataku terpejam, dan lensaku memutar pertunjukan lensa lain yang berwarna hitam kecoklatan, tajam. Ya, matanya, terekam pada waktu yang sangat singkat. 


Comments

Popular Posts