~Malam~
"Fuuh...." desah nafas di atas permukaan kedua tangan, kemudian saling bertemu dan saling bergesekan sehingga timbul rasa hangat, harus diulang berkali-kali. Tak ada baju hangat, hanya kaos panjang warna biru dengan bawahan celana jeans, tak ada pula rasa manis dari secangkir coklat panas sekalipun. Hanya ada dia dan jiwanya. Sendiri, bersandar pada tiang lampu jalanan yang menyala kuning. Jarum pendek menunjuk angka lima, dan tak pernah bergerak sejak hujan deras yang tanpa sengaja membasahi jam tangan dengan ornamen hello kitty yang kebetulan bukan jam anti air miliknya itu, kemarin. Baru saja Ia bercengkrama dengan seretan langkah para pemuja malam, bising knalpot, serta sorak sorai malam akhir pekan. Baru saja pula untuk kedua kali Ia tak tidur di balik selimut lembut berwarna pink dan memeluk boneka-boneka miliknya satu persatu. Ya, hanya Ia dan jiwanya, yang terbelenggu jadi satu, malam itu dan banyak malam sebelumnya.
###
Diujung jalan lain, dibawah sinar lampu, yang kali ini lampu putih, terlihat nyala televisi yang tegar dicaci maki oleh tiga lelaki yang berulang kali meneguk minuman di tangannya diselingi dengan ucapan yang tak jelas serta nglantur. Kulit kacang berserakan dimana-mana, barusan bukan hujan air, melainkan hujan kulit kacang. Sesekali juga hujan hujatan dan lagu yang tak punya nada pakem. Begitu tidak jelas, tetapi tawa ketiga lelaki itu tertawa begitu lepas, tak ada beban. Ya, tak ada beban lagi di benak mereka. Bahkan semalam itu hutang tunggakan enam bulan pada penagih kontrakan lunas. Ajaib.
Comments