Hitam. Legam.

Entah ini cangkir k o p i ke-berapa.
Kepulan uap putih dan aroma yang selalu membuatku rindu untuk menyedu barang secangkir dua cangkir.
Inilah caraku untuk menghabiskan tiap m a l a m. Kuputar-putar telunjukku mengelilingi mulut cangkir, sambil kurasakan hangatnya kepulan dari didihan air bercampur kopi. Sesekali kukaitkan telunjukku pada kuping cangkir, dan kuangkat hingga kurasakan hangatnya kepul uap sampai pangkal hidung. Sesekali juga kuteguk, satu, dua teguk. Kuletakkan kembali, masih lengkap dengan kepul uap dan aroma yang tersisa.

M a l a m bukan lagi m a l a m,tapi masih tetap gelap dan semua terlelap, kecuali aku, dan para perenung lainnya. Meski langit sedang h i t a m, aku bisa duduk dan terpaku, sebenarnya pada sesuatu. Tapi kali ini pada satu bayangan. Banyanganku sendiri. Perpaduan cahaya bulan yang sampai pada pintu kamar tak berlampu yang terbuka. Bisa kau bayangkan itu? Tak pernah bisa saling sentuh, tapi barang kali bisa kutangkap dengan lensa mataku, meskipun tetap h i t a m. L e g a m. Aku berdiri, ikut berdiri. Duduk lagi, ya duduk. 





"Apa maksudmu? Aku tak pernah memintamu untuk terus ikut bersamaku, bukan?"
"Ya, kau benar. Kau memang tak pernah meminta itu padaku."
"Lalu, kenapa masih di sini. Aku butuh waktu untuk menyendiri."
"Apa aku pernah mengganggu waktu sendirimu?"
"Tentu saja, kau selalu lakukan itu. Apa kau tak sadar?"
"Kalau kau tanya mengapa aku masih di sini, baiklah. Aku tahu kau tak pernah takut akan g e l a p, tapi aku hanya ingin membuatmu waspada, bahwa akulah yang paling g e l a p, h i t a m, l e g a m."
"........"
"Ketika petang menghilang, aku akan tetap disini. Bosan bertemu denganku? Bukankah kau bisa berjalan tanpa harus melihat wujudku yang notabene juga wujudmu?"
"Bagaimana bisa?"
"Berjalanlah menantang matahari."






-M a l a m c a n d u-

Comments

Popular Posts