Pidato Optimis - Realistis Pendidikan Indonesia

Assalamualaikum wr wb
                Puji syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berlaksa karunianya pagi ini saya dapat berdiri di sini. Di hadapan para generasi penerus bangsa yang bermimpi dan bercita-cita luhur. Pagi ini pagi yang cerah, secerah masa depan yang kita genggam di tangan kita.
                Apa sebelumnya ada yang ingin bertanya? Kalau begitu saya akan memulai dengan beberapa pertanyaan. Mengapa kita menjadi Indonesia? Haruskah kita menjadi Indonesia? Apakah kita belum menjadi Indonesia? Berbicara soal Indonesia , yang tersohor memiliki slogan kebanggaan, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Bagaimana kita bisa menjadi Indonesia? Kalau masalah pendidikana saja kita tidak menjadi Indonesia. Tidak bhineka tunggal ika.
                Negara kita memang Negara yang sedang berkembang. Untuk itu kita diajarkan integral dan limit sampai sedemikian rupa, kenyang fisika dan bosan kimia. Pemerintahpun juga sangat bergairah untuk menjungkir balikkan sistem pendidikan, mengganti-ganti layaknya pemain sulap. Karena diharapkan anak-anak Indonesia bisa berkembang. Bisa bersaing dengan anak-anak eropa, dan amerika.  
                Tapi bagimana kalau mau berangkat ke sekolah saja menjadi beban? bagaimana mau maju kalau ilmu yang terekam hanya bertahan maksimal enam bulan? Dan ketika liburan datang 95% menghilang. Bertahun-tahun hanya bertahan 5% saja. Cukup untuk apa? Bahkan angka itu kalah besar dengan diskon-diskon yang ditawarkan di toko pakaian.
                Generasi muda yang berbahagia, banyak sekali perubahan yang telah dilakukan pemerintah pada sistem pendidikan di Negara kita ini. Sebagaimana kita tahu, sistem-sistem itu tidak pernah bertahan lama. Lalu apa yang menjadikan indicator keberhasilan sebuah sistem? Bukannya butuh sebuah konsistensi dan analisis yang mendalam? Ya, kita sebagai siswa SMA mungkin saja bisa berfikir seperti itu. Tapi siapa kita? Kita masih siswa, hampir mustahil meskipun berbekal opini kita yang tersampaikan pada mendiknas akan berbuah perubahan yang masiv.
                Lalu bagaimana? Jika kita berbicara soal kebijakan-kebijakan pemerintah,  memang tidak akan pernah ada habisnya.  Apakah kita harus diam saja? Apakah kita harus berfikir bahwa sistem pendidikan kita baik-baik saja? Dengan lantang kita harus katakan tidak, bukan merubah paradigma yang seperti itu. Ujian Nasional sudah di depan kita. Tinggal menghitung hari. Begini, anggap saja ujian nasional adalah suatu ujian ketekunan.  Dari soal-soal yang pernah kita kerjakan berdasakan tipe soal tahun-tahun sebelumnya, soal ujian nasional hampir mirip dari tahun ke tahun. Jadi, siapa bilang ujian nasionla itu sulit. Kuncinya hanya perlu banyak latihan soal.
                Generasi penerus bangsa, ini semua tinggallah bagaimana kita mengatur sedikit waktu yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya. Mengganti waktu untuk online dengan mengerjakan 25 soal biologi mungkin? Jangan pernah merasa iri dengan teman-teman kita yang sering mengikuti olimpiade. Bagi mereka itu memang mudah, karena mereka telah terbiasa latihan soal. Anggap saja, saat kita masih SD dan SMP sibuk bermain, mereka justru belajar habis-habisan, wajar kan kalau mereka selangkah lebih maju dari kita. Anggap saja itu harga yang harus kita bayar atas waktu bermain kita.
                Teman-teman, hal ini bukan hanya masalah sebuah rasa optimis, tetapi juga realistis. Ujian nasional sudah di depan mata. Tidak ada waktu yang bisa kalian buang sia-sia. Belajar dengan lebih giat dan selalu berdoa pada yang Kuasa. Hadapi realita, keluh kesah nanti saja dan mengadakan gerakan perubahan mari kita lakukan di jenjang mahasiswa. Saya tahu, kita sebuah generasi yang haus akan perubahan.  Tapi ingat, realistis itu penting. Dan tidak ada kata lain selain bertindak.
                Apakah pertanyaan-pertanyaan saya sudah terjawab di benak anda? Kalau belum, sabarlah menunggu masa sampai ujian nasional tiba. Setelah itu mari kita diskusikan lagi bersama. Saya rasa, cukup sekian hal yang dapat saya sampaikan. Semoga hal-hal tadi dapat meredam sejenak euphoria protes kebijakan pemerintah.
                Pemuda Indonesia, tahu kemana dan bagaimana harus melangkah. Terimakasih.
Akhir kata, Assalamualaikum wr.wb

-Ujian praktek pidato Bahasa Indonesia 30 Januari 2012-
               
           


Comments

Popular Posts