Guyonan Di Meja Makan
Kalau memang kami harus membuka mulut, untuk kesekian kalinya
Anda harus menjadi seusia kami atau duduk bersama kami. Rata-rata 17 sampai 18
tahun. Dengan seperti itu Anda akan mendengar “kebosanan” yang kami ungkapkan
dengan terbuka tetapi belum sepenuhnya telanjang. Tanpa tedeng
aling aling [1] kebosanan hanyalah sebatas kata-kata yang
terucap dari mulut kami laskar yang dituntut menjadi remaja terpelajar.
Sekarang
nyaris empat belas tahun saya dan teman-teman
menghabiskan sebagian besar waktu saya memenuhi tuntutan belajar di
sekolah. Rumah kami yang kedua, dan bersama Anda sebagai orangtua kami yang
kedua. Entah bagaimana ada sebutan rumah kedua. Pada kenyataannya, sekarang
kami lebih lama menghabiskan waktu di sekolah daripada di rumah. Menghabiskan
waktu bersama seorang "sarjana S-2" dan cerita-cerita hidupnya. Rumah hanya
selayaknya persinggahan, tempat tidur dan tempat makan.
Coba kita mengundur memori sedikit ke
belakang, pada taman kanak-kanak (TK) kami dipaksa puas dengan waktu bermain
sekitar dua tahun lamanya, dan ketika sekolah dasar(SD)terasa begitu lama dan
penuh problema ketika kami harus berkenalan dengan Ujian Nasional. Begitu cepat
pula kami harus terbiasa dengan sosok lain dari orang tua kami. Tak cukup hanya
sekali, beberapa dari kami mendengar suara tinggi seruan untuk belajar yang
terkadang kasar, memberikan kami sebuah tuntutan semu demi masa depan yang
terlalu abstrak ketika itu. “Untuk apasih kita harus belajar Buk?” pertanyaan
yang kerap muncul dari bibir kami. “Supaya kamu jadi anak pintar biar jadi
dokter , arsitek, dan bisa cari uang yang banyak” jawaban ini sesuai dengan
terkaan kami. Entah pintar yang seperti apa yang dimaksud.
“Apakah
sukses saya ada pada buku ini juga bu Guru? Kenapa Ibu masih ada di sini kalau
dari buku inipun saya bisa menjawab semua soal? Dan saya pasti lulus Ujian
Nasional.” pertanyaan yang sampai sekarang semakin sesak ingin segera
terlontar.
Masih
sangat kental teringat di benak kami dan pasti “bergelak tawa” dengan sedikit
kernyit di dahi jika berkisah tentang masa-masa Sekolah Dasar (SD), ketika kami
mengikuti ulangan harian ataupun ujian
kenaikan kelas. Buku-buku, tinggi disusun di samping kanan dan kiri, rapat
menutupi kertas ujian yang baru saja
dibagi. Mengerjakan dengan penuh rasa gelisah dicontek kawan sebelah. Itu kisah
sepluh tahun lalu, dan sekarang kerap menjadi guyonan[2] ketika kami sedang merasa “bosan”. Entah mengapa membicarakan masa lalu bagi kami
terlalu menyenangkan, sekali lagi pada saat kami merasa “bosan”.
Jangan
terkejut ketika kami membicarakan tentang pendidikan di meja makan sambil
menelontarkan guyonan tentang masa
depan yang penuh impian. Dan pasti kami melibatkan Anda dalam guyonan-guyonan kami. Karena bagi kami sampai
saat ini masa depan sangatlah abstrak adanya. Bagaimana tidak, salah satu yang
membuat kami gatal adalah sistem pendidikan di Indonesia yang silih berganti
beriringan dengan bergantinya menteri pendidikan. Sangat gamblang menunjukkan penerapan
sistem yang tidak konsisten dan perencanaan yang sangat kurang matang serta
tidak banyak pertimbangan. Apalagi Anda yang harus berperan sebagai navigator kami, ketika kami dihadapkan
pada persimpangan. Itu sekedar guyonan kami
di meja makan.
Pembicaraan
kami tidak berhenti pada meja makan saat istirahat saja, berlanjut pada dua
meja kelas kami yang dikelilingi banyak kursi pada “jam inval”. Bermula dari
sebuah pertanyaan dari salah satu kawan kami. “Mau lanjut kemana Rek[3]?” pertanyaan yang memecah keheningan beberapa
detik. Serentak ketegangan begitu terlihat jelas pada wajah kami. Mungkin
kekhawatiran kami telah mencapai klimaks pada saat ini. Dengan waktu yang tidak
lebih dari delapan bulan, kami akan naik satu tingkat yang akan membawa kami
pada garis kesuksesan. Kami merasa masih
diantar oleh titik-titik yang samar padahal kami selalu bersama navigartor handal.
Dokumen pribadi penulis
Jika
digambarkan satu-persatu wajah dari kawan-kawan kami saat itu, mungkin Anda
memilih untuk diam dan pergi. Betapa tidak, wajah pertama yang tergambar adalah
wajah seorang kawan perempuan kami, kenyang akan tuntutan dan tekanan
orangtuanya yang mengharuskan selalu ada tulisan “Peringkat 1” pada raportnya.
Dan hari penerimaan raport adalah sebuah momok baginya. Wajah kedua adalah
wajah kawan laki-laki kami yang harus memupuskan cita-citanya menjadi seorang
pemain sepak bola karena orangtuanya mendoktrin bahwa dokter hanyalah satu-satunya
profesi yang halal di mata mereka. Wajah ketiga, wajah seorang anak pengusaha
kaya raya, wajah kawan laki-laki kami yang siap meluncurkan amunisinya ketika
Ujian Nasional dan begitu menguras ludah ketika mendengar nominal yang
dibayarnya. Dan wajah keempat harus saya lihat sambil bercermin. Wajah saya
yang penuh tanya apakah ilmu yang saya dapat sampai saat ini bisa mengantar
saya pada satu profesi yang saya impikan? Wajah gelisah akan bayang-bayang
kawan yang semakin ganas berlari mengejar satu “nilai” yang begitu didewakan.
Wajah saya di cermin selalu gelisah, gelisah bagaimana saya mengolah lebih dari
tujuh belas mata pelajaran yang telah saya dapat dari SD, SMP, SMA supaya tidak
menjadi sarang laba-laba. Sudah sebegitu mahalnya haruskah berujung menjadi hal
tak berharga? Anda memutuskan pergi, mungkin karena Anda belum mampu merubah
wajah saya dan kawan-kawan saya. Apakah ini indeks gagalnya peran seorang navigator?
Pembicaraan
dengan sedikit guyonan memang melegakan. Pembicaraan dengan kawan
seperjuangan yang sama-sama punya impian.
Sudah
dua kali kami lulus Ujian Nasional. Dan kami lulus dengan cara yang identik, membundari
lingkaran-lingkaran keberuntungan. Dan kawan kami yang belum “beruntung” harus
mengulang satu tahun dengan rutinitas dan perjumpaan pada hal yang sama.
Sekali
lagi, ketika kami bosan pasti tercetus guyonan.
“Aku nggak usah sekolah, cuma ikut bimbel aja udah bisa lulus Ujian Nasional
kok.” Jika paradigma lingkar pendidikan sekarang telah bergeser dengan sudut
yang cukup besar, harus berapa putaran lagi untuk mengembalikan paradigma
tersebut pada sudut yang tepat? Paradigma yang mendewakan “nilai” dan sistem
praktis pragmatis semakin membunuh pendidikan di Indonesia yang seharusnya bisa
lebih berkarakter.
Keabstrakan
kata sukses pada benak kami belum terlihat satu titik terang, hanya sebuah garis
panjang tak berujung. Apalagi dengan sistem pendidikan praktis pragmatis yang
kami dapatkan, meskipun dengan navigartor
handal, ibaratnya hanya membuat kami mampu menguliti sebuah apel, belum sampai
memotong dan menghilangkan bijinya, pisau kami sudah terlalu cepat tupul. Kami
juga terlalu lama menjadi bayi yang nyaman pada gendongan disertai ayunan
perlahan dan suapan bubur tim yang terus menerus masuk ke mulut kami tanpa ada
aksi tolakan, sampai kami lupa bagaimana cara mengunyah.
Dengan
sistem yang praktis pragmatis ini membuat kami tidak memiliki fokus yang jelas,
semua tampak blur. Apakah jalan keluar hanya dengan merombak
semuanya? Tidak! Itu hanya membuat kami menjadi serdadu yang kehabisan amunisi
di tengah peperangan. Layaknya kamera DSLR dengan lensa apapun, kami tidak
terlalu bergantug pada auto focus . Kami
putar lensa ke kiri atau ke kanan cari angle
paling fokus secara manual.
Jika
kami hanya melontarkan guyonan,
apakah ada yang serius mendengarkan? Mungkin yang lain sedang sibuk makan. Dan
Anda akan disibukkan dengan perbincangan sebuah “permainan” pendidikan.
Bermodal
pas-pasan dengan moral yang kian hilang ditelan jaman. Sebuah jalan yang tak
mudah bagi kami, Laskar Muda Indonesia. Rasa takut akan terombang-ambing pada
lintasan yang tak jelas ujungnya. Padat dan banter
nya arus di lintasan seberang yang memandang jijik pada lintasan kami yang
sering “macet” dan banyak kecelakaan.
Jangan
hanya diam kemudian pergi. Kami di sini butuh “Biro Perjalanan” yang setia
menemani kami sampai kami tiba pada sebuah destinasi, yaitu Impian. Jadilah “Biro
Perjalan” jangan hanya sebagai navigator
kami. Dengan begitu, keberadaan Anda dalam doa kami tidak akan terganti.
[1] Tedeng Aling Aling adalah istilah bahasa Jawa yang maknanya menutup-nutupi.
[2] Guyonan adalah istilah bahasa Jawa yang maknanya adalah candaan (berasal dari kata bercanda)
[3] Rek adalah istilah bahasa Jawa yang dipakai untuk sapaan antar teman sebaya
Tulisan ini saya buat sebagai sindiran halus tentang pendidikan yang telah menjadi makanan kami sehari-hari. Dan memenuhi sebagai salah satu peserta dalam Gerakan Indonesia Berkibar Blog Competition 2012.


Comments
keep writing.
some good stuff you have there.
Menulis adalah salah satu cara untuk peduli.
Yes, of course I find a good stuff from that.Thanks :D
Membaca tulisanmu aku jadi ngerasa berdosa membiarkan blog-ku terlantar dek, membangkitkan memori masa SMP dan SMA awal wktu msih semangat nulis :)
Semangaat deek :D
wah iya, udah sibuk kuliah siih
iyaa, semangaat! :)
btw hati2 dgn biro perjalanan, skrg byk yg menipu lihat aja byk calon haji yg gak jd berangkat hehehe
Bener juga mas, oke saya akan hati-hati hehe. Thanks :)