Sajak Belum Ku Temui Satu Ujung


Kata apa yang paling pantas diucapkan saat kita bertemu?
Dan kata apa yang paling pantas diucapkan saat kita berpisah?

Kita semua berbeda. Dari ujung kuku kaki sampai ujung rambut kepala kita, semua berbeda.
Kita semua sama. Dari rizky, jodoh, dan mati. Sama semua, bergantung takdir dari Tuhan.
Dan kita semua berbeda. Dari cara menerima dan menolak apa yang datang dan apa yang pergi.
Tetapi kita semua sama. Dari keinginan dan permintaan kepada Tuhan untuk selalu dimapankan dalam berbagai urusan.
Hanyalah tanya yang masih tersisa hingga waktunya kan tiba.


Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Bukan keputusan bodoh. karena aku tahu aku bisa berenang. 
Tetapi hanya kurang logis, karena persediaan dan bekal yang ku bawa tak akan cukup untuk mengarungi luasnya samudera yang siapapun tak akan menyangka. 
Bukan membela diri, tetapi aku tau keindahan apa yang ada di dasar, dan keindahan apa yang ada pada ujung dermaga.


Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Meskipun telah memilih, masih ada rasa tak percaya diri yang terbesit dalam angan-angan. 
Hanya dalam angan-angan. 
Teringat berapa banyak air yang masuk dalam mulut dan akhirnya tertelan 
Dan teringat berapa lama waktu untuk mengapungkan badan, mengangkat kepala dan mencari udara dalam celah nafas.

Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Karena mengingat bukanlah hal penguat. 
Dan mencoba adalah penguji utama. 
Tetapi waktu telah memaksa memilih begitu cepatnya. 
Dan mungkin pilihanku belumlah sempurna. 
Untungnya waktu mengijinkanku membawa sampan beserta duyungnya.
Ku ikat tali pada tangan dan pada salah satu sisi sampan, agar kami tak kan terpisah. 
Tak adalah rasa ragu untuk perlahan mendekat dan perlahan berjalan. 
Hingga ombak menyentuh kaki, perlahan makin tinggi, perlahan makin dingin, karena keberangkatanku juga mengikuti hasratku untuk mengantar sang mentari yang perlahan bersembunyi.


Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Sudah tenggelam badan jika kaki dan tangan diam. 
Mau kembali karena dingin, tetapi besarnya malu pada waktu yang telah menuruti macamnya pinta. Berenang perlahan, dan sesekali berhenti menarik sampan yang tertinggal di belakang. 
Sesekali menengok ke belakang, dan melihat daratan yang kian susah diterawang. 
Dan hingga aku takkan menengok lagi untuk menyaksikan hal yang sama agar tak kan ada rindu yang terlalu menggebu.

Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka.
Langit yang kian gelap, mengusut hasrat untuk berenti dan berpindah mendayung sampan. 
Hah! lelah juga. 
Hah! lapar juga. 
Tetapi, siapa yang mendengar? 
Notabene, Tuhan. 
Aku ingin lelahku hilang, istirahatlah. 
Aku ingin laparku hilang, makanlah. 
Tapi makanan hanya bisa dicari besok pagi. 
Ya sudah, ku habiskan malam pertamaku dengan tidur berteman senyuman bulan, dan ayun sampan ditengah riak ombak :)

Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Mataku tersentak dan tubuhku digertak dengan goncangan badai disertai kilat yang menyambar-nyambar. Aku melompat dan berenang di sebelah bawah sampan untuk berlindung dari ganasnya petir. 
Tapi tak lupa dengan rasa lapar tadi malam yang masih tersisa. 
Dan aku harus melupakkan. 
Pilihan hanya lapar dan mati tersambar kilat. 
Untungnya badai hanya lewat. 
Sayangnya bersisakan air yang meluap-luap di sampan kian membuat penat. 
Ku telungkupkan sampanku agar air bisa terbuang cepat, dan ku kembalikan kemudian ku teruskan dengan tangan sebagai gayung terkuat. 
Lelah.


Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Karena lelah, tak ada sisa tenaga untuk mencari ikan keperluan makan. 
 Biarkan saja sampanku berayun menuruti kemana arah ombak akan membawaku berlabuh. 
Toh, aku hanya perlu istirahat sebentar, sebentar saja kan? 
Biar perutku ini tak terlalu perih dirasa. 
Lima menit cukup untuk terpejam. 
Beranjak menyentuh air dimana surga yang ada di bawah sudah menawarkan diri. 
Sibuk menyusuri keindahan karang dan hiasan air garam, baru ingat jika berangkat hanya bawa dayung, sampan, badan, dan keberanian. 
Mana pisau? Mana api? Mana piring?  
Kalau begini, hanyalah teripang seingatku, yang bisa kumakan mentah mentah. 
Ya sudahlaah, yang penting perutku terisi, alhamdulillah


Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Belum separuh jalan, sudah terbayang angan. 
Setelah sampai di ujung dermaga, siapa yang akan ku temui, jika semua memandangku dingin, pertanda apa? tak kenal, atau memang aku terlalu lama terombang-ambing di tengah-tengah samudera? 
Baru separuh jalan, dan baru puluhan kali makan teripang diselingi cumi dan udang. 
Angan yang semakin tak jelas berhamburan, berlarian, dan serentak diam. 
Menengok ke belakang, hanya terlihat garis yang telah menjadi ujung semu. 
Menatap tajam ke depan, juga hanya garis yang menjadi takdir paling semu. 
Hah!

Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Menengok ke belakang lagi. 
Siapa tau ada orang yang sama-sama telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Meskipun waktu berkeputusan hanya seper sekian detik, tetapi siapa nyana dan siapa sangka, mungkin jarak tak berbicara sama. 
Oooh, ternyata tak ada. 
Ya sudaah, lanjutkan sisa jarak ini sendirian. 
Senang laah! semua keindahan yang ada hanya mataku yang melihat, tak akan terbagi dan tak ada yang merebut paksa. :)

Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka. 
Hai, aku di sini! 
Aku sudah jauh di sini! 
Kau memintaku untuk kembali?!!! 
Apa??? Suaramu sudah tak jelas di sini!!! 
Hei!!! Heii!!! Apa? 
Kau suruh aku menunggu? 
Kalau kau bisa temani aku dan kau bawakan aku pisau dan api, baiklah akan ku tunggu!!! 
Aghrh,apakah ini hanya angin yang terlalu ingin merayuku untuk kembali dan berhenti.?!

Aku telah memilih untuk berenang di sebuah samudera yang luasnya siapapun takkan menyangka.
Mungkin jikalau kau telah membaca sajak ini, dan sampai di bait ini. 
Jiwaku sudah tak berada di sini. 
Jiwaku sedang menikmati dinginnya samudera dan dorongan ombak kian kesana kemari di atas sampan dan di atas imajinasi. 
Jadi, apakah kau ingin meneruskan membaca semua ini dan mengikuti kemana arah imajinasi akan berbagi?
Aku hanya memberimu waktu 1 detik untuk berkeputusan. 
Jika tidak ingin, hentikan membaca sampai bait dan titik ini.

.
Dan jika benar-benar ingin mengikutinya, ikutilah dengan melakukan hal yang sama. 
Dari awal, awal sekali sajak ini, dari timbulnya pertanyaan yang tak terjawab. 
Dan dari awal sebuah keputusan. 
Tapi ingat! Jangan lakukan sebelum kau bisa berenang. 
Jangan berangkat kalau kau tak punya pisau dan pengasahnya, tali, dan ponco. 
Di sini terlalu liar dan terlalu dingin. 
Aku takut kau mati sebelum kau menjumpaiku, sebelum kau mengetahui keadaanku, dan sebelum kau berkeputusan untuk berhenti dan memutuskan untuk kembali.




Comments

Popular Posts